Terkait Tertembaknya Seorang Bocah Di Rumah Dinas Istri Gubernur Jabar Diperiksa


Satreskrim Polrestabes Bandung memeriksa Netty Prasetiyani, istri Gubernur Jabar Achmad Heryawan, terkait penembakan yang tidak disengaja dilakukan RZ (11) terhadap RA (11), seorang siswa SD Mutiara Bunda di salah satu kamar anak Gubernur, di rumah dinas gubernur, Jln. Otista No. 1 Bandung, Jumat (3/9) siang. Selain memeriksa istri Gubernur, polisi pun telah memeriksa tiga saksi lainnya untuk mengungkap kejadian tersebut.

"Ketiga saksi yang telah kami periksa di antaranya Yeni selaku Kasubag Rumdin, Suhaya petugas cleaning service, dan seorang sopir yang membawa korban ke rumah sakit," jelas Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Kaya Subrianto didampingi Kasat Reskrim AKBP, Tubagus Ade Hidayat dan Kasubag Humas, Kompol Endang Sri Wahyu Utami kepada wartawan di Mapolrestabes Bandung, Sabtu (4/9) petang.

Dikatakan, polisi sudah menetapkan status tersangka terhadap RZ, tapi masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. Pihak kepolisian pun telah melakukan pemeriksaan terhadap anak-anak yang terlibat dalam kejadian tersebut.

"Akan tetapi, pemeriksaan terhadap anak-anak itu akan didampingi pihak keluarganya dan berkoordinasi dengan pihak Bapas (Balai Pemasyarkatan). Selain itu, pemeriksaan akan dilakukan secara tertutup, dikarenakan mereka masih di bawah umur," katanya

Menurut Jaya, pemeriksaan anak-anak tersebut tidak termasuk anak Gubernur, lantaran yang bersangkutan tidak ada di tempat. "Anak Gubernur 'kan tidak ikut, jadi tidak diperiksa," jelasnya.

Polisi pun, lanjut Jaya, akan memeriksa Imam, anak Gubernur yang memiliki senapan angin tersebut. "Ia dimintai keterangan untuk mengkroscek letak senapan angin tersebut," ujarnya.

Saat disinggung mengenai perizinan kepemilikan senapan angin, Jaya mengatakan, tidak semestinya dilengkapi izin dari polisi. "Akan tetapi, pemilik senapan tersebut harus melapor ke polisi terdekat, minimal polsek, tentang kepemilikannya. Di mana untuk diawasi oleh kita agar tidak digunakan di luar peruntukannya," jelasnya.

Dipaparkan Jaya, kejadian tersebut berawal ketika salah satu anak Gubernur Jabar yang duduk di bangku SD Mutiara Bunda di Jln. Golf Arcamanik, mengajak ketiga rekannya untuk bermain dan berbuka bersama di rumah dinas Gubernur. Mereka tiba dari sekolah pukul 10.00 WIB dan sekitar pukul 13.50 WIB, anak Gubernur yang masih SD tersebut bersama ketiga rekannya bermain di halaman belakang. Tapi pukul 14.00 WIB, ia meninggalkan ketiga rekannya karena harus mengikuti les privat.

Saat itu ketiga temannya tetap bermain di rumah dinas. Bahkan mereka pun dengan leluasa bermain di salah satu kamar anak Gubernur lainnya. "Saat ketiga teman putra Gubernur itu bermain di kamar Imam, anak pertama Gubernur yang sudah kuliah, ketiga anak tersebut menemukan senapan angin kaliber 4,5 mm merek Tiger Sharp yang memang berada di kamar," jelas Jaya.

Dikatakan, saat ketiganya tengah bermain tiba-tiba terdengar letusan senapan angin. Mendengar suara tersebut, petugas cleaning service yang bernama Suhaya dan Yeni selaku Kasubag Rumdin pun berlari ke arah suara. Keduanya kaget saat melihat RA, salah satu teman anak Gubernur itu, mengeluarkan darah di bagian kepala. "Melihat itu, Yeni pun langsung menghubungi Ibu Gubernur," terangnya.

Pukul 16.00 WIB, lanjut Jaya, korban langsung dibawa ke RS Santosa oleh istri Gubernur. Namun tidak lama kemudian korban dirujuk ke RS Borromeus untuk dilakukan operasi kerena peluru senapan angin tersebut bersarang di kepalanya. "Tim medis Rumah Sakit Borromeus langsung melakukan operasi terhadap korban untuk mengangkat peluru tersebut. Operasi dilakukan pukul 21.00 WIB dan selesai pukul 22.00 WIB. Kini korban telah sadar dan masih dirawat di Gedung Maria," ujar Jaya.

Perawatan ditanggung

Sementara itu, Kasubag Humas Pemprov Jabar, Iip Hidayat membenarkan tertembaknya salah seorang bocah di Gedung Pakuan. Pihak Pakuan berjanji akan menanggung semua pengobatan dan perawatan korban. Menurutnya, saat kejadian Gubernur sedang tidak berada di lokasi. Selain itu, putranya tengah mengikuti les privat di luar.

"Yang jelas, keluarga Gubernur akan bertanggung jawab atas kejadian ini, termasuk membantu pengobatan korban di rumah sakit. Saat kejadian Gubernur tidak ada di tempat, begitu pun anaknya, sedang les privat di luar," ungkap Iip.

Disinggung apakah Gubernur sudah menengok korban di rumah sakit, Iip mengatakan belum mengetahuinya. "Saya baru datang dari luar kota, jadi belum tahu secara pasti keberadaan Bapak dan keluarganya," tegas Iip.

Sementara itu, pantauan "GM", Gedung Pakuan, Sabtu (4/9) terlihat lengang dan sepi. Tak terlihat tanda-tanda ada kegiatan atau keramaian. Pos penjagaan pintu utama Gedung Pakuan pun tidak dijaga oleh Satpol PP ataupun petugas kepolisian.
 
http://feeds2.feedburner.com/blogspot/Uyxg