Balada Suporter Dadakan, Apakah Mereka Bisa Menjadi Pendukung Garuda Sejati ?


garuda-merah-putihSaat ini timnas Indonesia memang tengah ‘mendunia’. Prestasi mereka di ajang AFF cukup membuat terperangah. Bahkan kemudahan komunikasi melalui media jejaring sosial membuat kegemilangan kita dapat ‘dirasakan’  di belahan Eropa. Tercatat sudah 3 pemain bola kelas dunia yang mengomentari kiprah Indonesia.
Di dalam negeri, lebih gila lagi. Animo masyarakat Indonesia dengan tim nasional sepakbolanya tengah bergelora. Pendukung pun membludak dengan jumlah berlipat kali ganda. Hal tersebut juga didukung faktor hadirnya seorang Irfan Bachdim membela Merah Putih di lapangan hijau. wajah ‘unyu’ dan kemampuannya yang standar Eropa membuat gadis-gadis tergila-gila. Sisanya? Mereka yang penasaran dan terseret masuk ke GBK untuk menyaksikan langsung kiprah Indonesia, yang memang tengah melanglang angkasa dengan menyapu bersih kemenangan di 4 pertandingan AFF nya. Status tuan rumah dan blow-up dari berbagai media (tidak hanya media olahraga)  juga menjadi faktor membludaknya pendukung timnas Indonesia.
Hal ini tentu menyenangkan, membanggakan sekaligus memprihatinkan. Dari sekian banyak pendukung tersebut, mana yang benar-benar pendukung asli Garuda Merah putih? Manakah yang berkedok pendukung sementara? Penunggang euforia yang tidak mendukung sepenuh hatinya? Kini sulit dibedakan, terlebih banyak dari mereka yang mengaku-ngaku pendukung sejati timnas!
Berikut adalah tulisan menarik yang saya dapatkan dari seorang Jakmania (pendukung Persija) dan suporter Indonesia sejati bernama Rizqy Fahrurozzy. Penulis adalah kontributor situs Jakmania, JakOnline, yang mengajak kita merenungkan lagi makna kebanggaan bangsa dan slogan  ‘Garuda di dada’ yang seharusnya tidak bersifat sementara. :)
Jak Online – Panggung piala AFF sedang heboh-hebohnya. Thailand yang notabene masih jadi “Raja” di kawasan Asia Tenggara tumbang di babak pertama, lalu ada Filipina yang diajang piala AFF sebelumnya menjadi “bulan-bulanan” tim lain, kini menjelma sebagai kekuatan lain yang harus diakui di Asia Tenggara, salah satu faktor yang membuat Tim Filipina berbeda adalah 8 pemain Naturalisasinya.
Tim lain yang tidak kalah spektakuler adalah INDONESIA, “menyapu bersih” kemenangan di 3 pertandingan, Laos, Malaysia, dan Thailand adalah para korbannya. Dengan dukungan penuh dari ribuan suporter yang selalu memadati Stadion GBK, sampai doa dari 250 jutaan warganya, INDONESIA seakan “terbangun dari tidur panjang”.
Irfan Bachdim dan Christian Gonzales adalah dua pemain naturalisasi yang dimiliki Timnas Indonesia saat ini. Mereka berdua saat ini menjadi “santapan” para media. Lihat saja di acara-acara infotaiment yang biasanya mengangkat berita perselingkuhan artis, perceraian artis, sampai berita video dan foto-foto porno artis, kini berpaling dan lebih sering mengangkat topik mereka berdua (IB dan CG). Berlebihan menurut gw, karena mereka berdua baru menjalani laga internasional membela Indonesia tidak lebih dari 5 pertandingan. Masih jauh deh untuk dikatakan “pahlawan”.
Ingin banget membahas Irfan Bachdim dan Christian Gonzales, tapi sepertinya media infotaiment jauh lebih “pintar” dan malah kelebihan bahan untuk sekedar memberitakan mereka. Lalu mau bahas apa? Hmm… gw kan suporter, jalur gw disini (mendukung terus dan mendukung), entah itu Persija ataupun Timnas Indonesia. Jadi gak ada salahnya gw ngebahas suporter Timnas, mungkin lebih spesifik lagi adalah Suporter “dadakan” Timnas.
Sebelum membahas Suporter “dadakan”, gw ingin cerita sedikit pengalaman gw ketika berada di kala demam piala dunia yang berlangsung Afrika Selatan dulu. Saat itu hanya gw yang memakai baju bertuliskan Indonesia (meskipun bukan jersey) diantara para pencinta Tim luar (saat itu banyak yang memakai jersey Spanyol, Italia, Belanda, dll) pada saat acara nonbar pembukaan piala dunia Afsel di salah satu cafe di Jakarta.
Tidak sedikit orang yang memandang gw aneh, bahkan gak sedikit perkataan dari pengunjung di cafe tersebut yang membuat gw kesel. Dari perkataan “Masih bangga ya dengan Indonesia?”, sampai dengan pernyataan yang paling lucu yang pernah gw denger “ini piala dunia bos, bukan kejuaraan Tim kalah, mana ada Indonesia! ”. Kenapa gw bilang lucu, karna dia gak sadar kali ya kalo dia sedang berada di cafe di Jakarta, dan Jakarta itu Indonesia. I just wanna say ”ini Indonesia Bos, bukan Afrika Selatan ”.
Belum lagi perkataan konyol kawan gw dikampus saat gw memakai jersey Indonesia (meskipun barang kw). Kawan gw itu bilang ”Hahahaha Indonesia? Terakhir menang lawan Laos kapan? ”. Anjrit, ingin banget gw “sumpel” mulutnya dengan meminjam syal yang bertuliskan INDONESIA.
Dijalan ketika gw menuju ke GBK saat ingin menonton Persija pun sering banget gw mengalami hal-hal yang bikin gw emosi, suara klakson dari mobil-mobil pribadi orang kantoran, jari tengah dari eksekutif muda yang memakai mobil BMW yang berstiker klub besar liga Inggris, sampai perkataan seorang tukang taksi yang bilang ”Jakarta kalo gak ada Jakmania, indah kali ya? ”.Saat itu gw langsung emosi gila, gw tendang spion mobilnya dan gw bilang ”Jakarta kalo gak ada orang kampung norak kayak lo mungkin lebih indah dari Paris, hah tau gak lo Paris? Anji*g !!”.
Cewek-cewek gaul pun pernah bikin gw emosi, saat itu ketika selesai pertandingan Indonesia melawan Uruguay.Gw nongkrong sebentar di salah satu tempat nongkrongnya mereka, dan mereka bilang “apaan sih? (sambil ngeliat gw dan kawan gw dengan mata aneh), mending nonton di TV deh”. Andai saja saat itu gw udah dapet “e-book” dari X-RoN, gw bikin sujud berkali-kali tuh cewek. Hahahahaaa.
Sekarang mungkin kondisinya berubah. Disaat TIMNAS Indonesia lagi bagus-bagusnya. Lihat saja antrian tiket di GBK, dua hari sebelum Pertandingan Filipina vs Indonesia. Berapa banyak orang yang rela untuk “ngantri”?, berapa banyak eksekutif muda berdasi yang kepanasan dan teriak-teriak karna ingin segera mendapatkan tiket?, Berapa banyak orang-orang berdasi yang kebingungan mencari tempat parkir di GBK?, teman gw di kampus yang dulu memandang sebelah mata Indonesia, kini setiap hari terus-terusan memesan tiket AFF ke gw tapi selalu gw tolak (maaf gw bukan penjual tiket)
Berapa banyak orang-orang yang dulu mencibir Timnas, sekarang malah ingin sekali menonton Timnas?, Berapa banyak cewek-cewek gaul yang berteriak-teriak histeris di saat timnas berlatih dilapangan PSSI?, Berapa banyak orang yang lebih memilih sibuk foto-foto di GBK ketimbang menikmati pertandingan Timnas?, Berapa banyak orang yang tidak tahu nama pemain-pemain Timnas selain Irfan Bachdim, Bambang Pamungkas, dan C. Gonzales?, dan yang lebih lucu, berapa banyak orang yang tidak tahu lokasi toilet di Stadium of GBK? Hahaha
Hahahahaaa…Gw dan mungkin masih banyak lagi diluar sana yang merasa dulu pernah jadi korban cibiran, cacian, makian sebagian besar dari mereka yang gw sebut di paragraf sebelum ini, sekarang hanya bisa menertawakan mereka. Mereka yang dulu memandang sebelah mata sepakbola dalam negeri, bahkan mereka yang pernah bilang suporter bola Indonesia adalah kumpulan suporter “pemimpi” karna hanya bisa bermimpi terus dan terus bermimpi, sekarang lebih rendah dari kami.
Lihat mereka, seperti orang yang lebih norak dari apa yang mereka pernah katakan ke suporter Indonesia dulu. Mereka lebih kampungan, ketika mengantri tiket karna teriakannya lebih menunjukkan kalau mereka lebih pantas bekerja di kebun binatang ketimbang di kantor. Mereka lebih lebay, ketika menonton timnas latihan. Mereka yang sekarang bikin Jakarta macet (juga), lihat saja di Raja Karcis Manggarai, Antrian mereka sampai ke bahu jalan.
Lihat berapa banyak orang yang datang ke GBK masih bangga memakai jersey Tim luar negeri? Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka (gw lebih suka menyebut mereka dengan panggilan Suporter dadakan) TAPI, temen gw si Thopa mengkoreksi pernyataan gw, dan lebih suka bilang klo mereka hanya penonton dadakan. Ingin sekali gw acungkan kembali jari tengah yang mereka pernah lontarkan ke gw, sambil membuang sedikit ludah gw, dan gw katakan”Ini Indonesia Kemana aja lo slama ini????”.
Terimakasih untuk cacian, makian, dan cibiran yang pernah kalian lontarkan ke gw wahai penonton dadakan. Semoga semangat lo gak hanya disaat Timnas saat bermain bagus saja. Semoga kalian bisa memberikan lebih banyak warna di pesepakbolaan negeri ini.
Mohon maaf kalo ada kata-kata gw yang kurang berkenan. Ini hanya muntahan kekesalan gw dari sejumlah referensi cerita derita seorang suporter bola di Indonesia.
Selamat datang di sepakbola Indonesia, Selamat menikmati tontonan langsung di Stadion, Selamat mengantri tiket, dan Selamat Menikmati Indahnya Sepakbola Indonesia!
Apapun yang terjadi, kami tetap janji. Mendukung Bola Negeri Ini ! ( JO – Rizqy Fahrurrozy )

http://lubang-kecil.blogspot.com/2010/12/balada-suporter-dadakan-apakah-mereka.html