Tampilkan postingan dengan label Gangguan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gangguan. Tampilkan semua postingan

Obat Penghilang Sakit Picu Gangguan Jantung



ORANG sehat yang menggunakan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) untuk meredakan rasa sakit dan nyeri ringan, menurut temuan peneliti dari Denmark, berisiko lebih besar meninggal akibat gangguan jantung.

Asosiasi Jantung Amerika dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) telah mengimbau penderita sakit jantung untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan NSAIDs. NSAIDs meliputi obat-obatan seperti ibuprofen (dengan merek dagang Advil, Motrin) dan diclofenac.

Namun, studi yang dilaporkan di Circulation: Cardiovascular Quality and Outcomes, Selasa (8/6) ini merupakan studi pertama yang menunjukkan adanya peningkatan risiko di kalangan orang-orang tanpa gangguan jantung.

"Sangat sedikit studi yang didisain untuk mengungkap apakah NSAIDs meningkatkan risiko kardiovaskular di kalangan orang sehat yang menggunakan obat-obat ini untuk mengatasi keluhan ringan," tutur penulis studi Dr. Emil L. Fosbol, seorang kardiolog dari Gentofte University Hospital di Hellerup."Ini merupakan studi pertama yang menegaskan adanya peningkatan risiko kardiovaskular pada orang-orang sehat yang menggunakan obat-obatan tersebut."

Obat mana yang paling berisiko? Jenis NSAIDs yang berbeda, terang peneliti, mempunyai risiko yang berbeda pula. Partisipan (rata-rata usia 39) yang menggunakan ibuprofen berisiko 29 persen lebih besar menderita stroke fatal atau nonfatal dibandingkan orang-orang yang tidak menggunakan NSAID.

Risiko kematian
Penggunaan diclofenac (Voltaren and Cataflam) berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebanyak 91 persen. Sedang penggunaan rofecoxib (Vioxx) berkaitan dengan peningkatan risiko sebanyak 66 persen. Akan tetapi, peneliti tidak menemukan adanya peningkatan risiko gangguan kardiovaskular pada pengguna naproxen, dijual bebas di apotek dengan merek dagang seperti Aleve.

Pada orang-orang dengan dosis terbesar, diclofenac berkaitan dengan penggandaan risiko serangan jantung, rofecoxib (Vioxx) berkaitan dengan penambahan risiko serangan jantung sebanyak tiga kali lipat. Vioxx sudah ditarik dari pasar Amerika Serikat pada 2004 karena studi menemukan banyaknya kejadian serangan jantung dan stroke di antara pengguna.

"Temuan ini sangat konsisten dengan apa yang telah kami temukan pada pasien penyakit kardiovaskular" terang Dr. Michael E. Farkouh, seorang kardiolog klinis dari Mount Sinai Cardiovascular Institute di New York City."Obat-obatan yang meningkatkan tekanan darah dan berkaitan dengan penyumbatan arteri bisa berbahaya untuk pasien yang sehat."

Peningkatan persentase dalam studi, terang Farkouh, tergolong besar. Tapi, risiko mutlak rata-rata pada orang-orang sehat cukup kecil."Akan tetapi, sebelum menggunakan obat-obatan tertentu, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter, khususnya obat-obat tipe ini." (LI/OL-06)

mediaindonesia.com

Nge-Net Sampai Larut Malam Ternyata Bisa Mengakibatkan Gangguan Mental


Bagi remaja yang gemar online hingga larut malam patut waspada. Pasalnya, sebuah studi mengungkap remaja yang kerap begadang demi browsing di internet memiliki potensi gangguan mental. Gangguan itu ditenggarai peneliti karena porsi tidur yang kurang.

Menurut temuan studi tersebut, durasi tidur 20.000 remaja berusia 17-24 tahun tak kurang dari lima jam. Peneliti berasumsi minimnya porsi tidur bila dilakukan lebih dari tiga kali menyebabkan resiko mengalami gangguan psikologi.


Studi yang dipublikasikan Journal Sleep ini berhubungan dengan kenaikan resiko stres sebesar 14 persen. Professor Nicholas Glozier, pemimpin riset tersebut mengatakan gangguan tidur seperti insomnia merupakan tahapan dari pengembangan depresi dan rasa gelisah. "Kurang tidur juga berhubungan dengan gangguan kesehatan mental," ungkapnya seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (2/9).

Glozier menerangkan kebanyakan gangguan mental datang dan pergi lantara ketiadaan penanganan yang tepat. Karena itu, pihaknya merasa tertarik untuk mengembangkan penelitian tentang gangguan tidur.

Glozier percaya gangguan tidur memberikan sumbangan besar terhadap rasa depresi yang dialami seseorang. "Sebagian besar pasien saya merupakan penggila Facebook dan pemain game kelas berat dimana mereka asyik online hingga larut malam. Sementara mereka harus bangun pukul 7 pagi," kata dia

Glozier menjelaskan berbeda dengan individu berusia tua dan paruh baya, individu remaja memang sulit untuk tidur lebih lama. Kesulitan itu kemudian mengawali masalah pada tidur. Masalah tidur, kata Glozier, kemudian berlanjut pada gangguan lainnya. "Sebagian besar remaja memiliki masalah tidur sebagai akibat dari gangguan sebelumnya," katanya.

Bisa dilihat, kata Glozier, jumlah waktu yang dihabiskan remaja untuk online telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan sebagian didorong oleh pertumbuhan situs jaringan sosial. Dia mengungkap angka terbaru menunjukkan bahwa rata-rata pengguna internet di Inggris menghabiskan lebih dari enam jam setiap bulan untuk mengakses situs seperti Facebook dan Twitter. Rata-rata terparah tercatat remaja Australia dengan rata-rata akses internet 7 jam per bulan.

Profesor Glozier bersama tim riset dari Sydney's-Woolcock Institute dan Brain and Mind  Research Institute kemudian merintis sebuah metode baru untuk memperbaiki jam tidur individu sehingga mencegah resiko kesehatan mental mereka. Pasien diobati dengan terapi sinar matahari di pagi hari untuk mengaktifkan hormon melatonin guna membantu mereka tidur lebih awal.
 
http://www.blognya-musthofa.co.cc/2010/09/ngenet-sampai-larut-malam-ternyata-bisa.html