Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan

Terapi Mata Dengan Melihat Payudara

Manfaat Sering Melihat payudara �Studi Payudara dan anjuran-anjurannya� Studi yang dimuat di New England Journal of Medicine tersebut mengatakan bahwa menatap buah dada yang seksi selama 10 menit bisa disamakan dengan latihan aerobik selama 30 menit.



Penelitian dilakukan oleh Dr. Karen Bouncer dan koleganya di tiga rumah sakit di Frankfurt ,Jerman, yang melibatkan 200 lelaki. Seratus orang disuruh melihat payudara secara teratur setiap hari, sebaliknya seratus lelaki lainnya justru dilarang untuk melihatnya.Studi dilakukan selama lima tahun dan hasilnya menunjukkan kelompok pengintip dada perempuan mempunyai tekanan darah lebih rendah, denyut nadi lebih lambat saat istirahat, dan mengalami gangguan pembuluh darah jantung lebih rendah. �Kenikmatan seksual memacu denyut jantung dan memperlancar sirkulasi darah,� kata Dr. Bouncer. �Kami percaya jika lelaki memandang dada ukuran �cup D� secara teratur, mereka akan hidup lebih panjang empat atau lima tahun.�

Dia menganjurkan kaum lelaki, terutama usia di atas 30 tahun, untuk menonton acara TV seperti Baywatch dan majalah-majalah panas seperti Playboy, yang menampilkan perempuan-perempuan berdada besar. Para peneliti juga mencatat nama-nama selebritis berdada seksi yang dianggap bisa �menyehatkan� lelaki, diantaranya Dolly Parton, Heather Locklear, Anna Nicole Smith, dan Demi Moore. Kalau selebritis Indonesia , siapa ya kira-kira?
Jadi dianjurkan untuk para lelaki harus mengikuti terapi ini secara teratur antara lain:

* Di rumah:
Harus suka me-lihat2 payudara isteri, kalau isteri ogah coba kebelakang lihat2 payudara pembantu (usahakan cari pembantu yg payudaranya gede, ini semata2 utk terapi umur panjang saja).
Alternative lainnya, berlangganan majalah Playboy atau sering nonton Blue Film.

* Di Kantor:
Usahakan bergaul dengan teman cewek yg punya payudara gede atau sesuai dengan selera masing2. Coba curi2 pandangan utk melihat payudara tsb. selama 10 menit saja. Alangkah baiknya kalo punya temen cewek yg bisa memback-up terapi ini dengan kata lain dapat memperlihatkan payudaranya hanya selama 10 menit saja setiap harinya.

* Di Jalanan:
Mata boleh jelalatan untuk me-lihat2 payudara perempuan di halte, di bus atau dimana saja, tapi hati2 kalau lagi mengendarai mobil jangan sampai tubrukan

* Di Cafe atau di Karaoke:
Usahakan untuk mendapatkan Ladies Companion yang sesuai dengan selera yang mana semata2 untuk terapi, bukan utk selingkuh.



evolusi-apa-aja.blogspot.com

6 Terapi Atasi Depresi

DEPRESI merupakan gangguan yang umum terjadi dan bisa mengganggu kelancaran aktivitas Anda. Berita bagusnya, masalah kesehatan satu ini bisa ditangani dengan berbagai cara. Berikut beberapa jenis terapi yang bisa membantu Anda menghilangkan depresi.

Psikoanalisis atau analisis kejiwaan
Terapi yang dikembangkan Sigmund Freud ini merupakan ibu dari semua terapi bicara. Terapi ini menyelidiki jiwa pasien serta membawa impuls-impuls dan perilaku bawah sadar pasien ke permukaan.

Penanganan ini berpusat pada dinamika antara pasien dan analis, serta biasanya berlangsung ketat. Anda kemungkinan harus menghadiri beberapa sesi dalam seminggu selama beberapa tahun, bahkan bisa mencapai hitungan dekade.

Kekuatan psikoanalisis, menurut presiden American Psychoanalytic Association Prudence Gourguechon, MD, adalah menciptakan laboratorium."Jika Anda mempunyai pasien yang tidak bisa mengambil keputusan, pasien tersebut akan mulai menunjukkan perilaku yang sama tepat di depan Anda," terang Gourguechon, seperti dikutip situs health.com.

Terapi psikodinamik
Dalam terapi ini, pasien jarang berbohong kepada terapis. Selain itu, sesinya lebih jarang (biasanya hanya sekali seminggu) dan pengobatannya lebih singkat (kadang setahun atau kurang).

Anda tidak akan digali sedalam psikoanalisis. Tapi penanganan masih fokus pada bawah sadar, perkembangan kepribadian, serta hubungan antara terapis dan pasien.

Terapi kognitif
Pola pikiran negatif bisa menyebabkan depresi dan kecemasan. Dan untuk mengatasi masalah ini, Anda bisa mengikuti terapi kognitif.

Selama terapi, Anda akan belajar mengenali pikiran-pikiran yang membahayakan atau pikiran yang tidak rasional dan mengganti pikiran tersebut dengan pikiran yang lebih membangun.

Berbeda dengan psikoanalisis, terapi kognitif diarahkan untuk memecahkan masalah yang ada di depan mata. Terapi ini singkat (umumnya 16 minggu atau kurang) dan sangat berstruktur, dengan rencana pelajaran spesifik untuk setiap sesinya. Selain itu, terapi ini juga melibatkan pekerjaan rumah. Terapis kemungkinan meminta Anda untuk mengenali dan mencatat mood atau mempraktikkan cara berpikir baru.

Terapi perilaku
Sama seperti terapi kognitif yang mengatasi pikiran negatif, terapi perilaku ini bisa membantu mengatasi masalah dengan mengubah perilaku Anda.

Sebagai contoh, salah satu teknik yang umum digunakan untuk mengatasi kecemasan dan fobia adalah desensitisasi. Dalam teknik ini, pasien secara bertahap dipapar atau diminta membayangkan situasi yang membuat mereka takut. Dengan cara ini, pasien menjadi lebih nyaman dengan situasi tersebut.

Terapi perilaku seringkali dipadukan dengan terapi kognitif, yang dikenal dengan nama cognitive-behavioral therapy (CBT). CBT merupakan istilah yang merujuk kepada metode-metode yang dipadukan dengan kedua teknik tersebut.

Terapi interpersonal
Apakah konflik interpersonal dan kurangnya dukungan sosial membuat Anda depresi? Jika iya, terapi interpersonal ini bisa menjadi pilihan Anda.

Dalam terapi yang singkat dan fokus ini, pasien diminta secara teliti memeriksa hubungan mereka dengan keluarga, teman, teman kerja, serta orang-orang dekat lainnya. Hal ini bertujuan memecahkan konflik interpersonal, memperbaiki komunikasi, dan membangun jaringan pendukung yang solid.

Terapi pengalaman/experiential therapyDalam terapi ini, Anda akan belajar membedakan respon emosional yang sehat dari respon yang berbahaya.Tapi berbeda dengan terapi lain (di mana hubungan pasien dan terapis tetap netral), terapi ini ditandai dengan hubungan suportif dan empati yang ditumbuhkan terapis dengan pasien. "Jika merasa dipahami dan merasakan kehangatan dari terapis, pasien akan merasa lebih baik." (IK/OL-08)

Sumber : mediaindonesia.com