Tampilkan postingan dengan label Kain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kain. Tampilkan semua postingan

Sejarah dan Proses Pembuatan Kiswah (Kain Penutup Ka'bah)

Pada ka'bah kita sering melihat adanya Kiswah (kain/selimut hitam penutup ka’bah). Tujuan dari pemasangan kain itu adalah untuk melindungi dinding ka’bah dari kotoran, debu, serta panas yang dapat membuatnya menjadi rusak. Selain itu kiswah juga berfungsi sebagai hiasan ka’bah.

Menurut sejarah, Kabah sudah diberi kiswah sejak zaman Nabi Ismail AS, putra Nabi Ibrahim AS. Namun tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada zaman Nabi Ismail terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah terbuat dari kain tenun.
http://winsanews.files.wordpress.com/2008/11/saudi-arabia-mecca-ka-bah-11.jpg
Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak zaman Ismail as diikuti oleh para penerusnya. Pada masa Qusay ibnu Kilab, salah seorang leluhur Nabi Muhammad yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Kabah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy.
Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah memerintahkan pembuatan kiswah dari kain yang berasal dari Yaman. Sedangkan empat khalifah penerus Nabi Muhammad yang termasuk dalam Khulafa al-Rasyidin memerintahkan pembuatan kiswah dari kain benang kapas.
Sementara itu, pada era Kekhalifahan Abbassiyah, Khalifah ke-4 al-Mahdi memerintahkan supaya kiswah dibuat dari kain sutra Khuz. Pada masa pemerintahannya, kiswah didatangkan dari Mesir dan Yaman.
Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur. Sedangkan pada masa Khalifah Mamun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun dari Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.
Pada era keemasan Islam , tanggung jawab pembuatan maupun pengadaan kiswah selalu dipikul oleh setiap khalifah yang sedang berkuasa di Hijaz, Arab Saudi pada setiap masanya. Meskipun kiswah selalu menjadi tanggung jawab para khalifah, beberapa raja di luar tanah Hijaz pernah menghadiahkan kiswah kepada pemerintah Hijaz.
Dulu, kiswah yang terbuat dari sutera hitam pernah didatangkan dari Mesir yang biayanya diambil dari kas Kerajaan Mesir. Tradisi pengiriman kiswah dari Mesir ini dimulai pada zaman Sultan Sulaiman yang memerintah mesir pada sekitar tahun 950-an H sampai masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya sekitar akhir tahun 1920-an.
http://akhmadguntar.com/wp-content/uploads/2008/umroh2008/ka%27bah-tanpa-kiswah.jpg
Ka'bah tanpa kiswah

Setiap tahun, kiswah-kiswah indah yang dibuat di Mesir itu diantar ke Makkah melewati jalan darat menggunakan tandu indah yang disebut mahmal. Kiswah beserta hadiah-hadiah lain di dalam mahmal datang bersamaan dengan rombongan haji dari Mesir yang dikepalai oleh seorang amirul hajj.
Amirul hajj itu ditunjuk secara resmi oleh pemerintah Kerajaan Mesir. Dari Mesir, setelah upacara serah terima, mahmal yang dikawal tentara Mesir berangkat ke terusan Suez dengan kapal khusus hingga ke pelabuhan Jeddah. Setibanya di Hijaz, mahmal tersebut diarak dengan upacara sangat meriah menuju ke Mekkah.
Pengiriman kiswah dari Mesir pernah terlambat hingga awal bulan Dzulhijjah. Hal itu terjadi beberapa waktu setelah meletusnya Perang Dunia I. Keterlambatan pengiriman kiswah terjadi akibat suasana yang tidak aman dan kondusif akibat Perang Dunia I.
Melihat situasi yang kurang baik pada saat itu, Raja Ibnu Saud (pendiri Kerajaan Arab Saudi) mengambil keputusan untuk segera membuat kiswah sendiri mengingat pada tanggal 10 Dzulhijjah, kiswah lama harus diganti dengan kiswah yang baru. Usaha tersebut berhasil dengan pendirian perusahaan tenun yang terdapat di Kampung Jiyad, Mekkah.
Setelah Perang Dunia I berakhir, Raja Farouq I dari Mesir kembali mengirimkan kiswah ke tanah Hijaz. Namun melihat berbagai kondisi pada saat itu, pemerintah Kerajaan Arab Saudi dibawah Raja Abdul Aziz Bin Saud memutuskan untuk membuat pabrik kiswah sendiri pada 1931 di Makkah. Hingga akhirnya kiswah dibuat di Arab Saudi hingga saat ini.
Kain kiswah memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri. Pintalan-pintalan benang berwarna emas maupun perak bersatu padu merangkai goresan kalam Ilahi. kiswah menjadi sangat berharga, bukan hanya karena firman-firman Allah SWT yang suci yang dipintal pada kiswah, tetapi juga karena keindahan dan eksotisme pintalan benang berwarna emas dan perak pada permukaannya.
Perpaduan warna emas dan perak pada kaligrafi yang menghiasi kiswah tersebut memiliki nilai seni yang luar biasa. Sebab pembuatannya membutuhkan skill dan bakat yang luar biasa karena tidak semua orang mampu membuat seni seindah itu. Kiswah merupakan simbol kekuatan, kesederhanaan, juga keagungan.


Proses Pembuatan Kiswah

Kiswah pertama kali dibuat dibuat oleh seorang pengrajin bernama Adnan bin Ad dengan bahan baku kulit unta. Namun dalam perkembangannya, kiswah dibuat dari kain sutera. Untuk membuat sebuah kiswah memerlukan 670 kg bahan sutera atau sekitar 600 meter persegi kain sutera yang terdiri dari 47 potong kain. Masing-masing potongan tersebut berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm.

Ukuran itu sudah disesuaikan untuk menutupi bidang kubus Kabah pada keempat sisinya. Sedangkan untuk hiasan berupa pintalan emas diperlukan 120 kg emas dan beberapa puluh kg perak.



http://www.emel.com/images/makingofkiswah_emel.jpg






Sejak 1931, kiswah untuk menutupi Kabah diproduksi di sebuah pabrik yang terletak di pinggir kota Mekkah, Arab Saudi. Dalam pabrik tersebut, pembuatan kiswah dilakukan secara modern dengan menggunakan mesin tenun modern. Di pabrik kiswah yang areanya seluas 10 hektare itu dipekerjakan sekitar 240 perajin kiswah.
Dalam pabrik tersebut, kiswah dibuat secara massal. Di sanalah semuanya disiapkan dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pada pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.
Meskipun kiswah tampak hitam jika dilihat dari luar, namun ternyata bagian dalam kiswah itu berwarna putih. Salah satu kalimat yang tertera dalam pintalan emas kiswah adalah kalimah syahadat, Allah Jalla Jalallah, La Ilaha Illallah, dan Muhammad Rasulullah . Surat Ali Imran: 96, Al-Baqarah :144, surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlash terpintal indah dalam benang emas untuk menghiasi kiswah.
Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Kabah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari.

Karena menggunakan bahan baku dari benda-benda yang sangat berharga seperti sutera, emas, maupun perak, harga kiswah ini menjadi sangat mahal sekitar Rp 50 miliar.
Sehingga setiap tahun Jawatan Wakaf Kerajaan Arab Saudi harus menyediakan dana sekitar Rp 50 miliar untuk pembuatan kiswah. Menurut sejarah, tradisi penggantian kiswah yang dilakukan setiap tahunnya sudah ada sejak masa Khalifah Al-Mahdi yang merupakan penguasa Dinasti Abbasiyah ke-IV.
Tradisi tersebut bermula ketika, Khalifah al-Mahdi naik haji kemudian penjaga Kabah melapor kepadanya tentang kiswah yang pada saat itu sudah mulai rapuh dan dikhawatirkan akan jatuh. Mendengar laporan yang memprihatinkan itu, Al-Mahdi memerintahkan agar setiap tahun kiswah diganti.
Sejak saat itu, kiswah untuk Ka’bah selalu diganti setiap tahun pada musim haji dan menjadi sebuah tradisi yang harus selalu dijalankan. Dengan demikian tidak ada lagi kiswah yang kondisinya memprihatinkan.

Pasalnya, setiap kiswah hanya memiliki masa pakai Ka’bah selama satu tahun. Bahkan, kiswah bekas dipakai Ka’bah ada yang dipotong-potong kemudian potongan tersebut dijual sebagai penghias rumah maupun kantor.

http://strano66.blogspot.com/2010/09/sejarah-dan-proses-pembuatan-kiswah.html

Kuburan Pria Beristri Enam Dibongkar, Kain Kafan Dicuri untuk Ilmu Menghilang

Berita Lampung BINJAI-Kuburan Sayuti Lubis (60) dibongkar, Senin (26/4) sekira pukul 11.00, atau sehari setelah pria beristri 6 ini dimakamkan di TPU Megawati Jl Medan-Binjai, Kec Binjai Timur. Kain kafan yang membalut jasad ayah 11 anak ini dicuri. Untuk apa? Adalah Wagipah (55) penjaga TPU Megawaty orang pertama yang melihat kuburan pria yang semasa hidupnya berprofesi sebagai mantri itu dibongkar.

“Jam 11 ketahuan kuburan ini dibongkar. Mayatnya memang nggak diangkat ke atas. Tapi kain kafannya hilang,” kata kakek warga Gang Rambutan, Kel Sumber Karya, Kec Binjai Timur ini. Sebagai penjaga kuburan atau disebut ‘juru kunci’, Wagipah menduga dibongkarnya kuburan Sayuti untuk kepentingan ilmu gaib.

Di sekitaran kuburan warga Jl Rambutan, Kel Sumber Karya, Kec Binjai Timur yang tewas akibat kecelakaan lalu-lintas itu, ditemukan celana jeans ponggol dan sepatu kats warna putih diduga milik pembongkar kuburan.

Begitu kabar kuburan Sayuti dibongkar, warga dan aparat kepolisian berdatangan ke TKP yang juga diikuti istri dan anak almarhum Sayuti. Bahkan, saat melihat kuburan suaminya telah dibongkar, istri Sayuti sempat pingsan, namun langsung dibawa pihak keluarga.

Salah seorang anak almarhum Sayuti, Arianti (20) yang ditemui di kuburan ayahnya mengatakan, semasa hidup ayahnya yang bekerja di RS Putri Hijau Medan. Arianti juga menyatakan ayahnya beristri dua.

“Ayah memang memiliki dua istri, kalau kerjanya di RS Putri Hijau Medan,” ujarnya singkat sambil menatap kuburan ayahnya yang dibongkar itu.

Tetangga: Beristri 6

Sayuti tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Jalan Medan–Binjai Km 15,5 Diski, Kec Sunggal, Minggu (25/4). Ketika itu korban baru pulang dari tempat kerjanya di RS Tembakau Deli, Jl Putri Hijau Medan. Naas mobil kijang yang dikemudikannya bertabrakan dengan truk pembawa CPO.

Menurut para tetangga, Sayuti tak langsung tewas. Korban masih sempat dirawat di RSU Latersia Binjai. Namun kondisi korban sangat memrihatinkan. Kaki kanannya patah dengan dada remuk. Kesulitan bernafas kemudian mengakibatkan suami, yang kata tetangganya punya istri 6 itu, tewas.

“Saat itu korban baru pulang kerja, mengemudikan mobil kijang. Entah bagaimana korban menabrak truk tangki yang melaju dari arah Binjai menuju Medan. Aku sendiri langsung ke TKP. Selanjutnya korban dilarikan ke RSU Latersia. Saat dibawa ke rumah sakit korban masih bicara walau terbata-bata. Tapi saat masih dirawat, aku sudah pulang,” kata seorang pria paruhbaya tetangga korban.

“Kecelakaan itu hari Sabtu sekira pukul 14.30. Aku sendiri ikut beres-beres di rumah duka sambil menunggu kedatangan jenazahnya,” sambungnya.

Masih dari keterangan beberapa tetangga korban yang ditemui POSMETRO MEDAN, korban meninggalkan 6 orang istri dan 11 anak. Ke enam istrinya itu ada di daerah Bangkatan Binjai, Kec Binjai Selatan. Ada di Tandam, Binjai Utara, Stabat–Langkat, Medan, dan Pekan Baru.

Jenazah korban sendiri disemayamkan di rumah istri keenamnya bernama Isu (40) dan telah memiliki 2 orang anak.

“Korban selain bekerja sebagai mantri juga ahli mengobati berbagai jenis penyakit melalui terapi. Pasiennya banyak orang Tionghoa. Anaknya 11 orang dari enam orang istrinya. Di Binjai ada dua, yang di sini di Gang Rambutan istri mudanya dan mempunyai dua orang anak. Istrinya juga ada di Tandam, Stabat, Medan, dan Pekan Baru,” terang warga tadi mengulangi.

Sementara, pihak keluarga yang ditemui usai melaksanakan tahlilan di rumah yang tergolong mewah tersebut enggan dikonfirmasi.

“Maaflah ya belum bisa kalau mau ketemu istrinya, karena sampai saat ini masih sering pingsan, nantilah ya karena suasana masih berduka,” ujar pihak keluarga yang juga mengatakan tak menyimpan foto korban semasa hidup.

Sementara itu, Kapolsek Binjai Timur AKP A Robert Sembiring SH mengatakan pihaknya tengah menyelidiki siapa pembongkar kuburan almarhum Sayuti.

“Kita masih mencari orang yang membongkar kuburan itu sekalian mencari tahu apa motifnya. Kita juga sudah amankan barang bukti berupa celana jeans pendek serta sepatu yang diduga milik pelaku pembongkaran,” katanya melaui HP. (aswin)

Diambil untuk Ilmu Menghilang

UMUMNYA, pelaku pembongkar kuburan yang mencuri kain kafan mayat bertujuan magis. Salah satu tujuannya untuk memperoleh ilmu menghilang. Nantinya, kain kafan itu dijadikan jimat setelah melakukan ritual-ritual seperti yang diperintahkan jin yang dipuja.

“Kain kafan merupakan sarana atau persyaratan. Biasanya, perilaku itu dilakukan oleh orang yang memuja jin,” kata Ki Jamaluddin Hadi Wijoyo, praktisi supranatural asal Tanjung Morawa.

Diakuinya, bagi orang yang berhasil mendapatkan kain kafan mayat, mampu membuat orang tak bisa melihatnya.

“Tapi persyaratan dan resikonya cukup berat. Bukan hanya berhadapan dengan warga, namun juga dengan mahluk gaib lain. Waktu untuk mengambilnya juga pada hari tertentu, seperti hari kelahiran si pencuri,” tukas Ki Jamaluddin.

Selain itu, lanjutnya, kain kafan mayat juga banyak digunakan oleh orang-orang yang melakukan pesugihan, seperti orang yang ingin kaya dengan jalan singkat. Kain kafan yang biasa dijadikan jimat, mampu menarik harta orang lain.

“Saat yang memuja jin itu mampu memenuhi permintaan jin tersebut, maka jin itu akan mengerjakan apa yang diinginkan manusia yang memujanya. Tapi ingat, setiap pekerjaan yang memuja jin, akan tertimpa sial. Dan itu sulit dielakkan,” kata Ki Jamaluddin mengingatkan.