Tampilkan postingan dengan label Luar Angkasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luar Angkasa. Tampilkan semua postingan

Star Wars: Persaingan Penguasaan Ruang Angkasa

Stasiun Angkasa dan Masa Depan Kehidupan Bumi



HINGGA datangnya zaman stasiun ruang angkasa, manusia Bumi melakukan berbagai kegiatan penyelidikan ruang angkasa dan langit pada umumnya dari Bumi. Paling jauh, manusia mengirim balon udara, roket yang melepas instrumen pengukur, atau terbang dengan pesawat, untuk menyelidiki fenomena jauh di tempat tinggi. Selebihnya malah dengan teropong bintang. Dari situ saja, hasilnya sudah sangat mengagumkan. Pengetahuan manusia tentang alam semesta dari waktu ke waktu bertambah berlipat-lipat. Bukan saja tentang Bulan, planet-planet, bintang-bintang, tetapi juga tentang galaksi dan obyek alam semesta lain yang amat jauh jaraknya dari Bumi. Dengan itu semua, para ahli astronomi berhasil mengkonstruksi sejarah alam semesta. Dengan beroperasinya Stasiun Ruang Angkasa Internasional, sejarah dan cakupan pengetahuan yang akan direngkuh umat manusia tentunya akan memasuki spektrum yang lebih luas lagi. Itu karena kondisi gravitasi-mikro telah menjanjikan hasil-hasil yang sulit terjadi di Bumi. Berikut laporan Adel ne MT, A. Darmawan, dan Ninok Leksono menyangkut stasiun yang kabarnya juga mengantar umat manusia menuju penjelajahan ke arah sudut-sudut jagad yang lebih jauh itu.






Atlantis dan MIR.





Mir milik Rusia Stasiun Ruang Angkasa Mir - Island in The Sky


Mengikuti laporan tentang visi ruang angkasa di majalah Time (10 April 2000), pembaca diperkenalkan pada sejumlah isu menarik dan beragam mengenai kegiatan eksplorasi dan penelitian antariksa. Sejumlah pertanyaan dikemukakan, seperti "Apakah di masa depan manusia akan hidup (tinggal) di Mars?; Menemukan alam semesta lain?; ditabrak asteroid?; berkelana di bintang-bintang lain?; dan bertemu dengan mahluk cerdas di luar Bumi ?"


Ambil misalnya pertanyaan pertama tentang kemungkinan tinggal di Mars. Urusan terbang ke dan tinggal di Mars jelas amat rumit dari berbagai seginya, terutama dari teknologi dan pendanaan.


Sebelum hal itu dilakukan, antara lain sudah harus diketahui terlebih dulu, bagaimana pengaruh perjalanan angkasa jangka panjang selama beberapa tahun, misalnya terhadap kinerja tubuh manusia. Pengetahuan ini sampai tingkat tertentu sudah diperoleh manusia melalui pengalaman tinggal selama beberapa waktu, dari beberapa hari, minggu, bulan, bahkan satu-dua tahun di stasiun ruan angkasa, mulai dari Salyut, Skylab, dan Mir. Tetapi mungkin saja masih diperlukan tinggal lebih lama lagi di stasiun ruang angkasa untuk mendapatkan pengetahuan lebih jauh. Di sinilah kehadiran stasiun ruang angkasa yang operasional sangat diperlukan. Pada akhirnya toh manusia di tengah makin sempit dan terbatasnya Bumi dalam menopang kehidupan manusia akan meluaskan lebensraum (ruang kehidupan) ke planet lain, dan untuk itu ia membutuhkan pengetahuan lebih lanjut mengenai efek tanpa gaya berat dalam jangka panjang yang pasti akan ditemui dalam perjalanan sangat jauh ke planet lain.


Barangkali sebelum koloni luar Bumi, stasiun angkasa juga amat bermanfaat untuk berbagai tujuan lain, ilmiah maupun ekonomis. Untuk keperluan ilmiah, bidang astronomi sudah melihat manfaat yang diperoleh dari teleskop Hubble yang dipangkalkan di ruang angkasa. Kita semua mengetahui, bahwa atmosfer bumi, yang kini semakin terkena polusi, tidak kondusif untuk kegiatan observasi langit. Untuk m l epaskan diri dari kendala itu, orang harus berada di luar atmosfer, yang berarti di ruang angkasa.


Melalui stasiun seperti Skylab dan Mir memang sudah banyak diperoleh pengetahuan baru mengenai berbagai proses dan fenomena semesta.


Selain itu, lingkungan tanpa gaya berat yang ada di ruang angkasa rupanya juga dilihat sebagai nilai plus untuk penyelidikan mengenai bahan industri. Para peneliti mengetahui, bahwa pada lingkungan tanpa gaya berat bahan bercampur dengan baik. Pengetahuan ini bisa dimanfaatkan untuk membuat kristal lebih murni, baik untuk bahan farmasi/obat-obatan, maupun untuk bahan industri lain. Fungsi ini, menyongsong era persaingan ekonomi yang makin kompetitif, jelas akan diperlukan.


Seiring dengan itu, makin terbatasnya sumberdaya alam bumi yang ada membuat manusia perlu menginventarisasi sumberdaya alam baru yang mungkin makin terbatas dan sulit dicari. Adanya anjungan angkasa dalam bentuk stasiun orbit yang bisa berkali-kali menyisir wilayah-wilayah Bumi pasti akan membantu upaya ersebut. Kini pun, misi terakhir untuk penyelamatan Mir juga membawa kamera penginderaan jauh.


Satu lagi aspek penting yang ada pada stasiun angkasa adalah pemanfaatan untuk observasi militer. Meski sekarang tidak ada lagi ancaman serius yang berkaitan dengan konflik antarkekuatan besar di dunia, doktrin udara (yang diperluas ke wilayah antariksa) menggariskan, bahwa siapa yang menguasai udara/antariksa punya keunggulan lebih dibanding lawan yang tidak menguasainya. Fungsi ini memang sekarang banyak dilakukan oleh pesawat dan satelit mata-mata. Tetapi jelas, bahwa penguasaan teknologi anjungan angkasa memberi keuntungan strategis untuk bila sewaktu-waktu dibutuhkan bisa dimanfaatkan untuk tujuan militer. Kalaupun bukan untuk menghadapi lawan dari Bumi, siapa tahu menghadapi penyerbu asing. Sementara ini pada masa damai stasiun ruang angkasa digunakan sepenuhnya untuk tujuan-tujuan damai.

ISS dan persoalannya


Uraian di atas memperlihatkan, bahwa baik untuk mempersiapkan perjalanan panjang antarplanet, dalam hal ini untuk mengetahui dampak kegiatan seperti itu bagi tubuh dan kesehatan manusia, baik untuk penelitian alam semesta yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya, baik untuk tujuan praktis di bidang ekonomi industri, dan bahkan baik untuk tujuan militer, stasiun ruang angkasa memperlihatkan kemanfaatannya.


Atas dasar pertimbangan itulah, Rusia mengembangkan stasiun Salyut seri 1 sampai 7, dilanjutkan oleh stasiun Mir. AS mengembangkan Skylab, dan kini bersama dengan sejumlah mitra internasional seperti Jepang, Rusia, dan Eropa, dalam proses menyelesaikan stasiun angkasa yang dikemas dalam proyek ISS (International Space Station).


Ini memang proyek internasional yang sebelumnya muncul setelah melalui perundingan panjang. Sayang proyek yang bernilai 50 milyar sampai 100 milyar dollar dan bertujuan untuk menempatkan stasiun megah di ketinggian 373 km di atas Bumi ini banyak digerogot oleh berbagai ganjalan.


Sebagai bangsa yang mencetuskan ide ISS pertama kali ide ini dilontarkan oleh Presiden Ronald Reagan tahun 1984 kini AS memang merupakan penyandang dana terbesar bagi proyek ini. Saat dicetuskan oleh Presiden Reagan, stasiun yang dimaksud diperkirakan akan selesai dalam tempo delapan tahun dengan biaya delapan milyar dollar.


Tetapi ketika para insinyur mulai menggambar, segera muncul berbagai hal yang pelik. Versi demi versi dimunculkan, tetapi ditolak, karena dinilai terlalu mahal, terlalu jelek, terlalu berbahaya untuk membangunnya. Sampai tahun 1992, sudah dihabiskan 10 milyar dollar untuk merencanakannya saja. (Time, 10/4/2000)



Kini, ada 16 negara yang ambil bagian dalam proyek ISS, termasuk Rusia yang berjanji akan menyumbangkan perangkat keras (seperti modul servis) dan pengetahuan (know-how). Tetapi dengan ekonomi yang anjlok, birokrasi yang ruwet, Rusia pun terlambat menepati batas waktu penyerahan. Ini memaksa AS untuk mengambil alih pekerjaan dan membayar pengeluaran.


Hal yang membuat keadaan lebih buruk, tukang kritik termasuk banyak ilmuwan angkasa yang pandangannya menjadi pertimbangan bagi pembangunan stasiun tersebut malah mengatakan, bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dirancang untuk dilakukan dalam ISS akan lebih baik dilakukan oleh satu wahana robot, dimana eksperimen sensitif bisa dilakukan t npa peran serta astronot.


Namun dalam pandangan Amerika, seperti diungkapkan oleh Jeffrey Kluger dalam laporannya di Time, ISS akan diselesaikan. Ada banyak kontraktor kedirgantaraan di distrik-distrik anggota Kongres yang kuat kini sedang berihtiar keras untuk mengatasi semua persoalan yang ada. Pada tahun 1998, dua modul pertama sudah diluncurkan ke orbit, dan yang ketiga milik Rusia dijadwalkan diluncurkan Juli mendatang. Tahun 2006 stasiun ini diharapkan sudah operasional, dan AS satu generasi lebih tua dan sekian milyar lebih miskin harus memutuskan akan mengerjakan apa dengan stasiun tersebut.



Apa yang dikemukakan oleh Kluger di atas mungkin saja mengandung kebenaran, meski ada nuansa kesal. Tetapi apa yang dikemukakan di atas, kalau pun tidak dalam jangka dekat ya jangka panjang, tetap berlaku. Pertama, karena tuntutan kebutuhan dan persaingan, ekonomi ataupun militer. Kedua, sifat manusia, apalagi untuk bangsa Amerika, adalah penuh rasa ingin tahu. Stasiun ruang angkasa seperti ISS menawa k an banyak peluang untuk menjawab berbagai rasa ingin tahu tersebut, pertama memuaskan semangat ilmiah, dan berikutnya untuk ditransformasikan ke dalam bidang-bidang praktis di sektor teknologi dan ekonomi.



Stasiun ruang angkasa rusia MIR









Badan Ruang angkasa rusia!


Badan Antariksa Federal Russia (bahasa Rusia:Федеральное космическое агентство, dulunya Badan Penerbangan dan Antariksa Rusia (RKA; dalam bahasa Rusia: Российское авиационно-космическое агентство)) adalah agensi pemerintah yang bertanggung jawab untuk program ilmu angkasa Rusia dan riset aeroangkasa umum.


Sejarah


RKA dibentuk setelah pemecahan bekas Uni Soviet dan pembubaran program angkasa Soviet. RKA menggunakan teknologi dan situs peluncuran yang dulunya milik program angkasa Soviet. RKA telah memusatkan kontrol program angkasa masyarakat Rusia, termasuk seluruh penerbangan angkasa berawak dan tak-berawak non militer.


Badan Antariksa Rusia, seperti program angkasa Soviet sebelumnya terhambat oleh kurangnya pendanaan yang telah merumitkan usaha dari misi bulan sampai kerja sama dalam ISS. Namun pada 2005 rangkaian pendanaan masa depan terlihat lebih baik, karena pemerintah Rusia telah menyetujui 425 milyar rubel (sekitar 15 milyar dolar AS) untuk program angkasa Rusia dari 2006-2015 [1]. Pendanaan untuk 2006 akan mencapai 27 milyar rubel (sekitar 900 juta dolar AS).


Program sekarang


Agensi Angkasa Rusia merupakan salah satu partner NASA dalam program Stasiun Angkasa Internasional (ISS). RKA juga menyediakan pariwisata angkasa untuk penumpang yang membayar-biaya kepada ISS melalui perusahaan Space Adventures.


RKA mengoperasikan beberapa program lainnya untuk ilmu bumi, komunikasi, dan riset ilmiah. Proyek masa depan termasuk penerus pesawat angkasa Soyuz "shuttle" Kliper (dibuat dalam kerja sama dengan ESA), misi robot ilmiah ke salah satu bulan planet Mars dan juga penambahan satelit riset mengorbit Bumi.



Markas Badan Penerbangan dan Antariksa Rusia ada di Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan.


RKA dikepalai oleh Anatoly Perminov, yang tugasnya seluruhnya sejalan dengan administrator NASA. RKA mempekerjakan sekitar 300 orang, sebanyak kerja itu dikontrak. Kontraktor utama yang digunakan oleh RKA ialah Kompleks Roket dan Antariksa Energiya, yang memiliki dan mengoperasikan Pusat Kontrol Misi di Korolyov, dan terjadi dalam proyek Stasiun Luar Angkasa Internasional. Tugas Energiya yang sebelumnya adalah mengoperasikan stasiun luar angkasa Mir. Perusahaan itu mengembangkan penggerak Energiya yang kuat yang merupakan kendaraan luncur berat dan digunakan untuk mengorbitkan Buran ke luar angkas.


Kendali peluncuran


Mitra militer RKA ialah Angkatan Antariksa Militer (VKS). VKS mengendalikan fasilitas luncur Kosmodrom Plesetsk Rusia. RKA dan VKS berbagi kendali atas Kosmodrom Baikonur, di mana RKA membayar kembali VKS untuk biaya sejumlah pengontrol penerbangan selama peluncuran sipil. RKA dan VKS juga berbagi kontrol atas Pusat Pelatihan Antariksawan Yuri Gagarin.



Persaingan Menaklukkan Angkasa Luar



SELASA 9 Agustus 2005 pesawat ulang-alik Discovery pulang ke bumi, setelah menjelajah angkasa. Sebelumnya NASA telah sukses mengorbitkan Discovery 26 Juli lalu. Tepat pukul 10.39 waktu setempat (pukul 21.39 WIB), Discovery membelah langit biru nan cerah di pusat peluncuran NASA, Cape Canveral Florida. Peristiwa bersejarah itu mengakhiri penantian dua setengah tahun setelah tragedi Columbia. Columbia meledak di udara 1 Februari 2003, setelah pesawat tersebut memasuki atmosfir bumi dalam proses pendaratan.


Pesawat ulang-alik mulai dikembangkan sejak akhir dasawarsa 1970-an. Sebelumnya roketlah yang digunakan untuk penerbangan antariksa. Teknologi roket yang merupakan dasar dari sistem penerbangan antariksa pada mulanya dikembangkan untuk keperluan persenjataan. Adalah Wehrner Von Braun, ilmuwan Jerman, yang mengawali penggunaan teknologi roket. Saat itu dia direkrut Hitler untuk mengembangkan misil V2, sebuah peluru kendali dengan teknologi roket dalam masa Perang Dunia II.


Saat perang usai, Von Braun pindah ke AS dan membantu pengembangan teknologi roket untuk kepentingan penerbangan antariksa di sana. Namun entah kenapa, cetak biru V2 kemudian jatuh ke tangan Rusia, dan digunakan sebagai acuan mengembangkan roket sendiri. Kedua negara adidaya itu kemudian terlibat dalam persaingan sengit untuk mengeksplorasi ruang angkasa.


Dalam pengembangan teknologi roket, Rusia unggul lebih dulu dengan keberhasilannya meluncurkan satelit buatan yang pertama di dunia dengan nama Sputnik I pada 4 Oktober 1957. AS kemudian menyusul dengan meluncurkan satelit pertamanya yang dinamai Explorer I pada 31 Januari 1958. Pada 12 April 1961, Rusia kembali memimpin dengan meluncurkan manusia pertama ke angkasa luar, Yuri Alekseyivich Gagarin, seorang mayor Angkatan Udara Rusia yang meluncur dengan kapsul Vostok I. Kurang dari sebulan kemudian, AS yang kebakaran jenggot karena terus didahului Rusia meluncurkan astronot pertamanya, Alan B Shepard, dengan kapsul Mercury 7. Peluncuran ini dilakukan secara terburu-buru dengan teknologi yang belum matang sehingga Shepard hanya mampu mengangkasa selama 15 menit dengan ketinggian maksimal 184 km. Padahal, Gagarin bisa mengangkasa selama 108 menit dengan ketinggian maksimal 301,4 km dalam sekali orbit.


Misi Shepard pun sebenarnya hanyalah penerbangan naik-turun dan tidak sampai mengorbit bumi. Wajar kalau Rusia mengejek misi ini sebagai "penerbangan kutu loncat". AS baru berhasil mengirimkan pesawat pengorbit pada 20 Februari 1962, ketika kapsul Friendship 7 yang diawaki oleh Letkol John Herschel Glenn berhasil melakukan 3 kali orbit dalam penerbangan selama 4 jam 56 menit. Prestasi ini masih kalah jauh dari kemajuan yang dicapai Rusia pada 6 bulan sebelumnya, ketika Mayor German Stephanovich Titov berhasil mengorbit 17 kali dalam penerbangan selama 25 jam 18 menit dalam kapsul Vostok II.


Bulan menjadi sasaran berikutnya dari kedua negara yang sedang bersaing itu. Rusia lagi-lagi mendahului dengan mengirim wahana tak berawak Lunik II pada 14 September 1959. Wahana ini tercatat sebagai wahana buatan manusia pertama yang mendarat di permukaan bulan. Sayangnya, Lunik II mendarat secara keras. Akibatnya seluruh peralatan yang dibawa rusak sehingga tidak mampu mengirimkan data apa pun ke bumi. Rusia baru berhasil mendaratkan wahana yang mampu melakukan pendaratan lunak pada Februari 1966 melalui wahana Lunik IX.


AS pun, walaupun pada awalnya sempat tertinggal, telah berhasil mengirimkan wahana untuk melakukan pendaratan lunak pada 1966. Setahun kemudian, sebuah wahana AS lainnya berhasil mengirimkan gambar TV pertama dari permukaan bulan. Puncaknya terjadi pada 17 Juli 1969, ketika Neil Armstrong dan Edwin Aldrin berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai manusia pertama yang menginjak permukaan bulan melalui misi Apollo-11. Misi ini dilanjutkan dengan 5 pendaratan lainnya, masing-masing Apollo-12 (November 1969), Apollo-14 (Februari 1971), Apollo-15 (Agustus 1971), Apollo-16 (April 1972), dan terakhir, Apollo-17 (Desember 1972). Misi Apollo juga pernah mencatat kegagalan, tepatnya menimpa misi Apollo-13 yang kecelakaan (ledakan pada salah satu modulnya). Untunglah para awak Apollo 13 dapat kembali dengan selamat ke bumi, walaupun gagal menjejak ke permukaan bulan.


Sementara itu, Rusia tercatat pernah mengirimkan modul Lunkhod I pada 17 November 1970. Modul ini berupa robot yang dikendalikan dari bumi. Namun sesudahnya program antariksa Rusia di bulan tidak lagi berlanjut. Begitu pula AS. Setelah berakhirnya misi Apollo-17, AS tidak lagi mengirimkan manusia ke bulan. Alasannya, boros dan berisiko.


Ulang-alik


AS lalu mengembangkan pesawat ulang-alik. Misi ulang-alik dinilai lebih murah karena hampir seluruh komponennya dapat dipergunakan kembali pada misi-misi sesudahnya. AS mencatat sejarah dengan keberhasilannya meluncurkan pesawat ulang-alik pertamanya, Columbia, pada Juni 1981. Dengan digunakannya teknologi ulang-alik, terbuka kesempatan untuk meluncurkan misi berawak dengan frekuensi yang lebih sering dengan pembiayaan yang lebih kecil. Bahkan saat peluncuran perdana Columbia, pihak NASA (Badan Luar Angkasa AS) mematok target untuk meluncurkan setidak-tidaknya satu misi berawak tiap minggu.


Namun, dalam kenyataannya target itu tidak pernah tercapai. Misi ulang-alik pun mulai dipertanyakan efektivitas dan efisiensinya, mengingat dana yang diserap ternyata tidak jauh berbeda daripada era roket sekali pakai yang sudah ditinggalkan NASA. Nahas yang menimpa pesawat ulang-alik Challenger yang meledak saat peluncuran (28 Februari 1986) dan menewaskan ketujuh awaknya membuat NASA merestrukturisasi kembali program ulang-aliknya, khususnya dalam persoalan keamanan. Namun teknologi ulang-alik itu tidak banyak berubah, bahkan selama lebih dari 20 tahun sejak pertama kali digunakan.


Puncaknya terjadi pada peristiwa kecelakaan yang menimpa Columbia. Peristiwa yang menewaskan tujuh awak tersebut kembali membuka perdebatan mengenai keamanan serta kepentingan misi ulang-alik. Buntut dari kecelakaan ini adalah dibekukannya program luar angkasa AS sambil mengkaji kembali berbagai faktor dalam penerbangan ulang-alik. Sepeninggal Challenger dan Columbia, AS masih memiliki tiga pesawat ulang-alik lain, yaitu Discovery, Atlantis, dan Endeavour. Ditambah dengan satu prototipe yang tidak pernah mengudara, Enterprise, yang kini menghuni museum Smithsonian.


Sementara itu, dalam mengatasi ketertinggalannya dari AS, Rusia tercatat juga mengembangkan pesawat ulang-alik sendiri yang diberi nama Buran. Tahun 1988, Buran diuji coba dalam sebuah penerbangan tanpa awak. Sayangnya, krisis politik dan ekonomi yang melanda Uni Sovyet sesaat sebelum bubar membuat proyek Buran tersendat, bahkan terhenti sama sekali sebelum berkembang.


Pecahnya Uni Soviet akhirnya juga membawa malapetaka bagi program antariksa Rusia. Pangkalan peluncuran Rusia yang berada di Tyuratam (kosmodrom Baikonur) kini telah masuk wilayah Kazakhstan, sebuah negara kecil yang secara ekonomi tidak begitu makmur. Rusia harus membayar ongkos sewa untuk dapat terus menggunakan pangkalan tersebut. Padahal Rusia sedang krisis moneter. Walhasil, setelah Soviet bubar, program ruang angkasa Rusia sempat tersendat selama beberapa waktu.


Kondisi ini membuat Rusia kreatif mencari dana untuk membiayai program luar angkasanya. Dengan membayar biaya sekitar 20 juta dolar AS, siapa saja bisa mengikuti penerbangan antariksa Rusia. Dengan cara ini , Dennis Tito, seorang miliarder asal AS, akhirnya bisa tercatat sebagai turis antariksa yang pertama dalam sejarah. Belakangan, Rusia berniat menjadikan program "turis antariksa" ini sebagai salah satu cara memperoleh dana segar guna melanjutkan program luar angkasanya.


Kini teknologi roket tidak lagi menjadi monopoli AS atau Rusia. Jepang, India, China, dan Uni Eropa juga telah berhasil mengembangkan teknologi roket. Keberhasilan China meluncurkan misi berawak ke antariksa pada Oktober 2003 telah menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbangan antariksa.


Perang Dunia ke III tahun 2010

[mama+laurent.jpg]
Vangelia Gushterova, peramal yang disetarakan dgn Nostradamus. Dia asal Bulgaria meninggal 1996. Meramalkan PD III meletus pada Nov 2010.
Boleh percaya boleh tidak tapi ramalan ini sunggung mengerikan. Seorang peramal asal Bulgaria, yang disetarakan dengan Nostradamus atau peramal terkenal Valdes, mengatakan, perang dunia ke 3 akan meletus pada November 2010. Diawali dengan perang antara Negara tetangga yang berkembang menjadi besar dan melibatkan banyak Negara, serta terjadi perang nuklir dan senjata kimia. Peran ini akan berlangsung empat tahun, hingga 2014. Akibatnya sungguh mengerikan, perang ini menghancurkan hampir semua kehidupan di belahan bumi Utara, khususnya Eropa yang penduduknya nyaris musnah. Benua eropa diramalkan hanya didiami hanya sedikit orang karena banyak yang musnah karena perang.
Perang Dunia kali ini tidak seperti perang dunia I dan II, kali ini kecanggihan teknologi

persenjataan, nuklir, kimia, dll, ikut berperan menghancurkan semua, bukan hanya pasukan yang terlibat perang tapi juga masyarakat yang tak berdosa. Setelah perang, hampir sebagian besar penduduk dunia akan mengalami penyakit kanker kulit dan penyakit kulit lainnya akibat senjata kimia dan nuklir.

Lebih jauh tentang ramalan itu ikuti ulasan ini. Tidak banyak orang percaya pada ramalan namun kepercayaan itu biasanya baru akan muncul ketika apa yang diramalkan mulai menunjukkan kebenaran atau menjadi kenyataan. Seperti halnya Vanga yang memiliki nama asli Vangelia Gushterova, seorang peramal asal Bulgaria. Pada awal kemunculannya, tak banyak orang percaya prediksinya tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa depan. Namun seiring waktu ketika prediksinya itu mulai menjadi kenyataan, orang pun mulai berpaling padanya. Mulai mengingat-ingat apa yg pernah dikatakannya dulu. Banyak ramalan-ramalan Vanga tentang peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dunia, pada akhirnya menjadi kenyataan.

Vanga telah meninggal sejak 1996. Namun ramalan-ramalannya tentang masa depan dunia kini dicermati semua orang. Setelah sejumlah ramalan terdahulu menjadi kenyataan. Sebut saja, prediksinya tentang serangan teroris pada Amerika pada 9 September 2001 atau dikenal dgn 9/11. Ketika itu dia mengatakan Amerika akan ‘jatuh’ oleh serangan burung baja. Dan itu menjadi kenyataan di mana pusat kebanggan Amerika, World Trade Center, ditabrak oleh pesawat yg dibajak teroris. Dia juga pernah meramalkan tentang meletusnya Perang Dunia ke-II, juga tentang perestroika yang menjadikan ‘ wajah’ Rusia berbeda, serta kematian Putri Diana. Atau tenggelamnya kapal selam Kursk di Laut Barents yang berhubungan dengan konflik bersenjata di South Ossetia. Ramalan tentang tenggelamnya kapal selam nuklir kebanggaan Rusia, Kursk, ini diungkapkannya pada 1980. Ia mengatakan,” pada pada agustus antara tahun 1999 atau 2000, Kursk akan diliputi air dan dunia akan menangisinya”. Ternyata terbukti, tahun 2000 kapal selam nuklir itu tenggelam.

PERANG DUNIA KE-III

Kapal selam nuklir kebanggaan Rusia, Kursk, tenggelam tahun 2000 di Laut Barents. Vanga meramal tenggelamnya Kursk pada 1980
Namun yang menggegerkan Vanga meramalkan tentang meletusnya Perang Dunia ke-3 tahun 2010. Berdasarkan terawangnya, Perang Dunia ke-3 itu terjadi karena konflik akibat percobaan pembunuhan terhadap kepala Negara, yakni Ukraina, Estopnia, Lituania dan Polandia yang bagian ke Georgia. Perang Dunia meletus setelah konflik yang terjadi di Hindustan (India).

Awalnya, perang tersebut hanya perang local antar Negara tetangga yang dimulai pada November 2010. Lalu perang itu merembet melibatkan banyak Negara, terjadi perang nuklir dan senjata kimia. Perang Dunia ke III ini akan selesai menjelang Oktober 2014.

Berikut ini cuplikan ramalannya yang mengerikan:
2011: akibat perang, hujan radioaktif akan menghancurkan hampir semua kehidupan di belahan bumi Utara. Kebanyakan orang-orang Eropa akan musnah dan menghadapi ancaman dari Muslim yang akan mempergunakan senjata kimia untuk menghabisi mereka. 2014: Akibat mengerikan diterima penduduk dunia akibat serangan senjata kimia dan nuklir selama perang. Di mana sebagian besar penduduk dunia akan menderita kanker kulit dan penyakit kulit lainnya. 2016: Penduduk Eropa hingga sedikit, nyaris benua itu tidak didiami. 2018: Cina akan tampil sebagai Negara superpower baru, yang memiliki kekuasaan besar di dunia. Yang tadinya eksploiters akan menjadi yang diekploitasi. 2023: Orbit tanah akan berganti 2025: Penduduk eropa masih sangat jarang.

Akhir dari Perang Dunia Ke II 1940

Vanga lahir 1911 dengan nama Vangelia Pandeva Dimitrova, setelah menikah namanya menjadi Vangelia Gushterova. Ia berasal dari Bulgaria dan buta sejak usia 12 tahun. Vanga banyak menghabiskan hidupnya di area Rupite di Kozhuh Mountains, Bulgaria. Ia diduga buta huruf dan tidak menulis apapun ramalannya. Ramalan-ramalannya hanya diucapkan dan orang merekamnya. Kadang ada kesulitan, karena ucapannya kadang bercampur dialeg Bulgaria yang sulit dimengerti.

Ia mengatakan, kemampuannya melihat masa depan karena bantuan makhluk gaib yang mendampinginya dan membisikkan padanya tentang apa yang akan terjadi. Tapi Vanga tidak bisa menjelaskan dari mana makhluk gaib itu berasal. Makluk gaib itulah yang memberinya informasi tentang orang atau apapun yang akan terjadi atau telah terjadi.
Kini ramalan-ramalan Vanga menjadi objek penelitian Institut Bulgaria. Sebanyak 7000 ramalannya kini tengah diteliti. Dari penelitian tersebut, dikatakan bahwa 80 persen dari ramalannya akurat. Sesaat sebelum kematiannya, Vanga , meramalkan, bumi akan dilanda keresahan dan ketidak seimbangan, serta sejumlah makluk luar angka (alien) yang sebenarnya telah bertahun-tahun hidup di bumi.

*Menurut saya sebenarnya kalau kita pikir2 ramalan2 tersebut sangat mungkin terjadi. Terlebih banyak isu-isu yang mengatakan akan ada perang dunia ketiga (john titor, nostradamus, bahkan mama lorent). Semua kembali kepada kita masing-masing, apakah kita mau berubah sikap dari sekarang?

Sumber : http://www.kaskuserz.com/forum/Ramalan-Mama-Lauren-Perang-Dunia-ke-III-tahun-2010

Lubang Hitam : Black Hole




http://www.ifa.hawaii.edu/~barnes/ast110_06/bhaq/Black_Hole_Milkyway.jpg








Dengan gaya gravitasinya yang sangat spektakuler lubang hitam adalah monster kosmis tersendiri. Jurang ketiadaan ini bahkan melenyapkan cahaya.






Lubang hitam (black hole) sering dihubungkan dengan hilangnya benda-benda kosmis bahkan wahana udara sekalipun, seperti pernah disinggung dalam rubrik ini berkaitan dengan hilangnya banyak pesawat di Segitiga Bermuda dan Samudera Atlantik Utara. Pro dan kontra pendapat mengenai hal ini memang tak pernah surut. Cerita seputar Segitiga Bermuda pun sepertinya tetap misterius, dan menjadi bahan tulisan yang tidak ada habis-habisnya.


Dalam bahasan fenomena kali ini, baiklah kita tinjau sedikit apa sebenarnya lubang hitam atau yang disebut para ilmuwan sebagai singularitas dari bintang redup yang mengalami keruntuhan gravitasi (gravitational collapse) sempurna ini.


Bila ditelusuri istilah lubang hitam, sebenarnya belum lah lama populer. Dua kata ini pertama kali diangkat oleh fisikawan AS bernama John Archibald Wheeler pada tahun 1968. Wheeler memberi nama demikian karena singularitas ini tak bisa dilihat. Mengapa demikian? Penyebabnya tidak lain karena cahaya tak bisa lepas dari kungkungan gravitasi singularitas yang maha dahsyat ini. Daerah di sekitar singularitas atau lazimnya disebut sebagai Horizon Peristiwa (radiusnya dihitung dengan rumus jari-jari Schwarzschild R = 2GM/C2 dimana G = 6,67 x 10-11 Nm2kg-2, M = kg massa lubang hitam, C = cepat rambat cahaya) menjadi gelap. Itulah sebabnya, wilayah ini disebut sebagai lubang hitam.


Dengan tidak bisa lepasnya cahaya, serta merta sekilas kita bisa membayangkan sendiri kira-kira seberapa besar gaya gravitasi dari lubang hitam. Untuk mulai menghitungnya, ingatlah bahwa cepat rambat cahaya di alam mencapai 300 juta meter per detik. Masya Allah. Lalu, apalah jadinya bila benar sebuah wahana buatan manusia tersedot ke dalam lubang hitam? Dalam hitungan sepersejuta detik saja, tentunya dapat dipastikan wahana tersebut sudah remuk menjadi bubur.


Lebih dua ratus tahun silam, atau tepatnya pada tahun 1783. pemikiran akan adanya monster kosmis bersifat melenyapkan benda lainnya ini sebenarnya pernah dilontarkan oleh seorang pendeta bernama John Mitchell. Mitchell yang kala itu mencermati teori gravitasi Isaac Newton (1643-1727) berpendapat, bila bumi punya suatu kecepatan lepas dari Bumi 11 km per detik (sebuah benda yang dilemparkan tegak lurus ke atas baru akan terlepas dari pengaruh gravitasi bumi setelah melewati kecepatan ini), tentu ada planet atau bintang lain yang punya gravitasi lebih besar. Mitchell malah memperkirakan di kosmis terdapat suatu bintang dengan massa 500 kali matahari yang mampu mencegah lepasnya cahaya dari permukaannya sendiri.




http://www.dailygalaxy.com/photos/uncategorized/2008/03/17/black_hole_big_2_3.jpg





Lalu, bagaimana sebenarnya lubang hitam tercipta? Menurut teori evolusi bintang (lahir, berkembang, dan matinya bintang), buyut dari lubang hitam adalah sebuah bintang biru. Bintang biru merupakan julukan bagi deret kelompok bintang yang massanya lebih besar dari 1,4 kali massa matahari. Disebutkan para ahli fisika kosmis, ketika pembakaran hidrogen di bintang biru mulai usai (kira-kira memakan waktu 10 juta tahun), ia akan berkontraksi dan memuai menjadi bintang maha raksasa biru. Selanjutnya, ia akan mendingin menjadi bintang maha raksasa merah. Dalam fase inilah, akibat tarikan gravitasinya sendiri, bintang maha raksasa merah mengalami keruntuhan gravitasi menghasilkan ledakan dahsyat atau biasa disebut sebagai Supernova.


Supernova ditandai dengan peningkatan kecerahan cahaya hingga miliaran kali cahaya bintang biasa kemudian melahirkan dua kelas bintang, yakni bintang netron dan lubang hitam. Bintang netron (disebut juga Pulsar atau bintang denyut) terjadi bila massa bintang runtuh lebih besar dari 1,4 kali, tapi lebih kecil dari tiga kali massa matahari. Sementara lubang hitam mempunyai massa bintang runtuh lebih dari tiga kali massa matahari. Materi pembentuk lubang hitam kemudian mengalami pengerutan yang tidak dapat mencegah apapun darinya. Bintang menjadi sangat mampat sampai menjadi suatu titik massa yang kerapatannya tidak terhingga, yang disebut singularitas tadi.


Di dalam kaidah fisika, besaran gaya gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak atau dirumuskan F µ 1/r2. Dari formula inilah kita bisa memahami mengapa lubang hitam mempunyai gaya gravitasi yang maha dahsyat. Dengan nilai r yang makin kecil atau mendekati nol, gaya gravitasi akan menjadi tak hingga besarnya.


Para ilmuwan menghitung, seandainya benda bermassa seperti bumi kita ini akan menjadi lubang hitam, agar gravitasinya mampu mencegah cahaya keluar, maka benda itu harus dimampatkan menjadi bola berjari-jari 1 cm! (Allahu Akbar, hanya Tuhan lah yang bisa melakukannya).


Cakram gas


Dengan sifatnya yang tidak bisa dilihat, pertanyaan kemudian adalah bagaimana mendeteksi adanya suatu lubang hitam? Kesempatan yang paling baik untuk mendeteksinya, diakui para ahli, adalah bila ia merupakan bintang ganda (dua bintang yang berevolusi dan saling mengelilingi). Lubang hitam akan menyedot semua materi dan gas-gas hasil ledakan termonuklir bintang di sekitarnya. Dari gesekan internal, gas-gas yang tersedot itu akan menjadi sangat panas (hingga 2 juta derajat!) dan memancarkan sinar-X. Dari sinar-X inilah para ahli memulai langkah untuk menjejak lubang hitam.


Pada 12 Desember 1970, AS meluncurkan satelit astronomi kecil (Small Astronomical Satellite *SAS) pendeteksi sinar-X di kosmis bernama Uhuru dari lepas pantai Kenya. Dari hasil pengamatannya didapatkan bahwa sebuah bintang maha raksasa biru, yakni HDE226868 yang terletak dalam konstelasi Cygnus (8.000 tahun cahaya dari bumi) mempunyai pasangan bintang Cygnus X-1, yang tidak dapat dideteksi secara langsung.


Cygnus X-1 menampakkan orbitnya berupa gas-gas hasil ledakan termonuklir HDE226868 yang bergerak membentuk sebuah cakram. Cygnus X-1 diperhitungkan berukuran lebih kecil dari Bumi, tapi memiliki massa enam kali lebih besar dari massa matahari. Bintang redup ini telah diyakini para ilmuwan sebagai lubang hitam. Selain Cygnus X-1, Uhuru juga mendapatkan sumber sinar-X kosmis, yakni Cygnus X-3 dalam konstelasi Centaurus dan Lupus X-1 dalam konstelasi bintang Lupus. Dua yang disebut terakhir belum dipastikan sebagai lubang hitam, termasuk 339 sumber sinar-X lainnya yang dideteksi selama 2,5 tahun masa operasi Uhuru.


Eksplorasi sumber sinar-X di kosmis masih dilanjutkan oleh satelit HEAO (High Energy Astronomical Observatory) atau Einstein Observatory tahun 1978. Satelit ini menemukan bintang ganda yang lain dalam konstelasi Circinus, yakni Circinus X-1 serta V861 Scorpii dan GX339-4 dalam konstelasi bintang Scorpius.


Tahun 1999, dengan biaya 2,8 milyar dollar, AS masih meluncurkan teleskop Chandra, guna menyingkap misteri lubang hitam. The Chandra X-ray Observatory sepanjang 45 kaki milik NASA ini telah berhasil membuat ratusan gambar resolusi tinggi dan menangkap adanya lompatan-lompatan sinar-X dari pusat galaksi Bima Sakti berjarak 24.000 tahun cahaya dari Bumi. Mencengangkan, karena bila memang benar demikian (lompatan sinar-X itu) menunjukkan adanya sebuah lubang hitam di jantung Bima Sakti, maka teori Albert Einstein kembali benar. Ia menyatakan, bahwa di jantung setiap galaksi terdapat lubang hitam!


"Dugaan semacam itu sungguh sangat dekat dengan kenyataan," kata Frederick Baganoff yang memimpin penelitian, September 2001, kepada Reuters di Washington. Para ilmuwan pun mulai melebarkan pencarian terhadap putaran gas di sekitar tepi-tepi jurang ketiadaan ini, layaknya mencari pusaran air.


Pencarian lubang hitam dan kebenaran teori-teori yang mendukungnya memang masih terus dilakukan para ahli, seiring makin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan. Pertanyaan kemudian, bila lubang hitam bertebaran di kosmis, apakah nanti pada saat kiamat, monster ini pula yang akan melenyapkan benda-benda jagat raya?



sumber : http://forum.detik.com/showthread.php?t=59270&page=2

NASA Beberkan Bukti Kehidupan di Mars



NASA menemukan apa yang mereka sebut sebagai "bukti kuat" bahwa kehidupan pernah ada di Planet Mars. NASA yakin, planet itu pernah terdapat kehidupan bakteri.

Sebuah tim peneliti NASA di Pusat Antariksa Johnson di Houston telah memeriksa ulang meteorit yang melanda Antartika 13.000 tahun yang lalu, dan menemukan bukti yang paling kuat bahwa planet itu pernah terdapat kehidupan bakteri.

Tim mengatakan kristal mikroskopis yang ditemukan di batu yang terdapat fosil bakteri itu memiliki banyak karakteristik yang serupa dengan bakteri yang ditemukan di Bumi.

"Bukti mendukung kemungkinan adanya kehidupan di Mars masa lalu," kata David McKay, kepala ilmuwan NASA untuk eksplorasi dan astrobiologi.

"Bukti termasuk tanda-tanda air permukaan di masa lalu termasuk sisa-sisa sungai, danau dan mungkin samudera dan tanda-tanda air di dekat atau di permukaan."

Namun perdebatan berpusat pada kristal magnetik yang ditemukan di meteorit. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1996 menyarankan itu adalah biogenik yang dihasilkan oleh organisme hidup.

Namun kritikus mengatakan kristal magnetik itu dibentuk oleh proses kimia yang disebut dekomposisi termal.

Penelitian baru menggunakan instrumen yang lebih maju untuk menyangkal teori para kritikus, dan berargumen bahwa kehidupan kuno tetap penjelasan yang paling masuk akal.

"Kami percaya bahwa hipotesis biogenik sekarang lebih kuat daripada ketika kita pertama kali mengusulkannya 13 tahun lalu," kata Everett Gibson, seorang ilmuwan NASA. [inilah]