Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Kecoa.jpgPARA ilmuwan percaya bahwa Kecoa, binatang yang suka hidup di tempat yang lembab dan kotor, ternyata memiliki khasiat yang luar biasa untuk kesehatan.

Menurut laporan Daily Mail, pengujian telah menemukan jaringan dari otak dan sistem saraf serangga bisa membunuh lebih dari 90 persen infeksi MRSA dan E-coli tanpa merugikan sel manusia.

Simon Lee, seorang peneliti pascasarjana dari University of Nottingham mengatakan, kecoa memiliki sifat antibiotik yang kuat setelah menemukan sembilan molekul yang berbeda dalam jaringan kecoa yang beracun bagi bakteri.

Dia berkata: "Kami berharap molekul akhirnya dapat dikembangkan menjadi obat untuk E-coli dan infeksi MRSA yang semakin rawan terhadap obat-obatan saat ini."

"Antibiotik baru ini berpotensi memberikan alternatif lain untuk obat yang tersedia saat ini. Obat-obatan saat ini mungkin efektif tetapi memiliki efek samping yang serius dan tidak diinginkan," tambah Lee.

Dia menambahkan: "Serangga sering hidup dalam lingkungan yang tidak sehat dan tidak higienis dimana mereka menghadapi berbagai jenis bakteri. Oleh karena itu logis cara-cara serangga memngembangkan pertahanan untuk melindungi diri terhadap mikro-organisme."

Penelitian Mr Lee difokuskan pada studi tentang sifat-sifat khusus dari molekul antibakteri yang saat ini sedang diuji pada serangga super tersebut.

Menurut Society for General Microbiology, industri farmasi adalah menghasilkan lebih sedikit dan lebih sedikit antibiotik baru karena kurangnya insentif keuangan, sehingga permintaan tinggi untuk sumber-sumber alternatif obat baru.

Besok, Mr Lee akan memaparkan penemuannya dihadapan teman ilmuwan di pertemuan masyarakat musim gugur di University of Nottingham.

Dr Naveed Khan bertugas mengawasi kerja Lee. Dia berkata: "Serangga super seperti MRSA telah mengembangkan perlawanan terhadap standar terapi dan perawatan yang kami lakukan.

"Mereka telah menunjukkan kemampuan untuk infeksi yang tidak dapat diobati, dan telah menjadi ancaman utama dalam perjuangan kita melawan penyakit bakteri. Jadi, ada kebutuhan terus-menerus untuk menemukan sumber tambahan antimikroba baru untuk menghadapi ancaman ini."
 
http://lubang-kecil.blogspot.com/2010/09/ilmu-pengetahuan-dan-teknologi.html

Teknologi Pesawat Terbang Untuk Menangkal Sambaran Petir

Pesawat terbang sangat mungkin untuk disambar petir. Tetapi pesawat terbang dilengkapi dengan sistim static discharge pada badannya, sehingga kemungkinan disambar petir sangatlah kecil dan memang ada pesawat yang disambar petir, hanya saja jarang sekali terjadi dan akibat yang ditimbulkan tidak besar, apalagi dengan pesawat-pesawat modern jaman sekarang.
http://denipratama.files.wordpress.com/2009/03/pesawat.jpg

Penjelasannya adalah begini:

Petir terjadi karena adanya perbedaan muatan listrik di udara, loncatan muatan listrik yang berbeda bisa terjadi diantara awan diudara atau dari awan ke tanah. Awan atau benda yang bergerak di udara, karena pergesekan dengan udara, maka akan timbul muatan listirk statis dibenda itu.

Demikian juga pesawat terbang pada saat bergerak diudara pada badannya akan terbentuk listrik static, hanya saja dengan sistim static discharge yang terpasang di pesawat, maka muatan listrik yang timbul di pesawat akan segera dibuang ke udara, sehingga kemungkinan ada loncatan listirk / petir dari awan ke badan pesawat diperkecil kemungkinan terjadinya.

Jika sistim itu tidak bekerja, bisa saja pesawat tersambar petir dan akibatnya adalah mulai dari terganggunya peralatan komunikasi dan navigasi dipesawat sampai terbakar diudara (namun kejadian ini sangat jarang terjadi).

Tapi tidak perlu kuatir, karena sistim static discharge di pesawat sangat jarang sekali rusak dan perawatannya sangat sederhana, karena bentuknya hanya berupa kawat atau lempengan plastik berisi logam seperti buntut tikus yang ditempatkan di ujung-ujung sayap atau ekor pesawat dan jumlahnya sampai 12 atau 16 buah.

Ketika petir menyambar pesawat itu, muatan listrik mengalir sepanjang alumunium menuju permukaan yang lebih lancip yaitu di ujung-ujung sayap maupun ekor.



Di ujung yang lebih lancip itu, muatan listrik akan terlucut berupa percikan api. Dengan begitu muatan listrik tidak akan masuk ke dalam pesawat. Jadi, orang yang berada di dalam pesawat akan aman dari sambaran petir.

Pada bangunan kasusnya berbeda. Bangunan tidak tertutup konduktor. Oleh karena itu, ketika petir menyambar, bangunan dapat terbakar. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penangkal petir berupa konduktor listrik lancip yang dihubungkan dengan tanah. Ketika petir menyambar, muatan listrik petir akan mengalir melalui konduktor lancip ini menuju ke Bumi. Bangunan pun aman dari serangan petir.

sumber: http://strano66.blogspot.com/2010/09/teknologi-pesawat-terbang-untuk.html

Teknologi Sepatu Untuk Berjalan Di Atas Permukaan Air




''Berjalan'' di air tidak lagi mustahil saat ini. Setidaknya, penemuan Frank-Uwe Groth bisa dimanfaatkan untuk aktivitas tersebut. Benda berbentuk sepatu besar atau mirip kapal itu bisa membantu pemakainya melintas di air. Tampak Groth (kiri) bersama rekannya menjajal temuannya tersebut di Danau Pinnower See, dekat Godern, timur laut Jerman, Kamis lalu (26/8). Dilengkapi semacam dayung, benda itu dinamai sepatu renang (swim shoes). Padahal, pemakainya tak harus berenang. Yang jelas, benda menyerupai sepatu aladin tersebut nya*man untuk jalan-jalan di air.

Menakjubkan Ketika Alam Berpadu Dengan Teknologi !!!

Maka lahirlah karya-karya yang menakjubkan ini....











Source

10 Teknologi Yang Terancam Usang

Teknologi terus berkembang pesat. Tak heran bila ada yang menjadi usang dimakan jaman. Nah, inilah prediksi tentang teknologi yang akan terancam keberadaannya tahun depan. Daftar ini dikompilasi oleh riteler online Pixmania. Berikut urutan 10 teknologi yang disebutkan akan ‘usang’ pada tahun 2010:

1. DVD player
http://htoh.files.wordpress.com/2007/11/dvd-player.jpg

2. Mesin faksimili
http://img208.imageshack.us/img208/2735/1364159mesinfax.jpg

3. TV analog
http://imanfauzansyarief.files.wordpress.com/2008/11/acer-at4220-lcd-tv1.jpg

4. Telepon rumah berbasis kabel
http://ansar63.files.wordpress.com/2008/09/fixphone2.jpg

5. Charger telepon genggam
http://www.2dayblog.com/images/2007/may/solar_charger_2.jpg

6. Wii-mote
http://splat.lili.org/files/splat/images/wiimote_nunchuk.jpg

7. Sat Nav
http://stownend.com/Images/sat%20Nav.jpg

8. Dongle
http://www.itu.dk/~panic/projects/CYBERBLUE-USB-DONGLE.jpg

9. Mouse komputer
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaNxRKgbomUxIiN_kD6EPrREJOtApUJt3i0uXhwv8k1DviBcg2dO94LjBfFYBfIOazyZRz_BdRbdxVADKha3Ic3WN8MVkRH_L85veVqfutwX3IJfXuqyFUSCd07J6ia6Igbde23nUHlJM/s1600/pirate-mouse.jpg

10. Kartu kredit berbasis PIN dan chip
http://junarto.files.wordpress.com/2007/06/kartu-kredit2.jpg

Teknologi-teknologi di atas akan menjadi usang karena digantikan oleh teknologi yang lebih baru. Contoh, HD video menggantikan DVD, e-mail menggantikan faksimili, layar sentuh menggantikan mouse, sedangkan ponsel menggantikan telepon kabel.

sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2010/04/10-teknologi-yang-terancam-usang.html

Unik nya Iklan Melalui Eskalator

Escalatorad


Escalatorad2 
sumber :http://faroutworld.blogspot.com/2007/07/escalator-ride.html

Bercukur dengan Teknologi Tinggi

NGACA NYA aja pake DiGiCam HOHOOOO....



Heightoftechology3pc
sumber :http://faroutworld.blogspot.com/2007/09/high-tech-shaving.html

Star Wars: Persaingan Penguasaan Ruang Angkasa

Stasiun Angkasa dan Masa Depan Kehidupan Bumi



HINGGA datangnya zaman stasiun ruang angkasa, manusia Bumi melakukan berbagai kegiatan penyelidikan ruang angkasa dan langit pada umumnya dari Bumi. Paling jauh, manusia mengirim balon udara, roket yang melepas instrumen pengukur, atau terbang dengan pesawat, untuk menyelidiki fenomena jauh di tempat tinggi. Selebihnya malah dengan teropong bintang. Dari situ saja, hasilnya sudah sangat mengagumkan. Pengetahuan manusia tentang alam semesta dari waktu ke waktu bertambah berlipat-lipat. Bukan saja tentang Bulan, planet-planet, bintang-bintang, tetapi juga tentang galaksi dan obyek alam semesta lain yang amat jauh jaraknya dari Bumi. Dengan itu semua, para ahli astronomi berhasil mengkonstruksi sejarah alam semesta. Dengan beroperasinya Stasiun Ruang Angkasa Internasional, sejarah dan cakupan pengetahuan yang akan direngkuh umat manusia tentunya akan memasuki spektrum yang lebih luas lagi. Itu karena kondisi gravitasi-mikro telah menjanjikan hasil-hasil yang sulit terjadi di Bumi. Berikut laporan Adel ne MT, A. Darmawan, dan Ninok Leksono menyangkut stasiun yang kabarnya juga mengantar umat manusia menuju penjelajahan ke arah sudut-sudut jagad yang lebih jauh itu.






Atlantis dan MIR.





Mir milik Rusia Stasiun Ruang Angkasa Mir - Island in The Sky


Mengikuti laporan tentang visi ruang angkasa di majalah Time (10 April 2000), pembaca diperkenalkan pada sejumlah isu menarik dan beragam mengenai kegiatan eksplorasi dan penelitian antariksa. Sejumlah pertanyaan dikemukakan, seperti "Apakah di masa depan manusia akan hidup (tinggal) di Mars?; Menemukan alam semesta lain?; ditabrak asteroid?; berkelana di bintang-bintang lain?; dan bertemu dengan mahluk cerdas di luar Bumi ?"


Ambil misalnya pertanyaan pertama tentang kemungkinan tinggal di Mars. Urusan terbang ke dan tinggal di Mars jelas amat rumit dari berbagai seginya, terutama dari teknologi dan pendanaan.


Sebelum hal itu dilakukan, antara lain sudah harus diketahui terlebih dulu, bagaimana pengaruh perjalanan angkasa jangka panjang selama beberapa tahun, misalnya terhadap kinerja tubuh manusia. Pengetahuan ini sampai tingkat tertentu sudah diperoleh manusia melalui pengalaman tinggal selama beberapa waktu, dari beberapa hari, minggu, bulan, bahkan satu-dua tahun di stasiun ruan angkasa, mulai dari Salyut, Skylab, dan Mir. Tetapi mungkin saja masih diperlukan tinggal lebih lama lagi di stasiun ruang angkasa untuk mendapatkan pengetahuan lebih jauh. Di sinilah kehadiran stasiun ruang angkasa yang operasional sangat diperlukan. Pada akhirnya toh manusia di tengah makin sempit dan terbatasnya Bumi dalam menopang kehidupan manusia akan meluaskan lebensraum (ruang kehidupan) ke planet lain, dan untuk itu ia membutuhkan pengetahuan lebih lanjut mengenai efek tanpa gaya berat dalam jangka panjang yang pasti akan ditemui dalam perjalanan sangat jauh ke planet lain.


Barangkali sebelum koloni luar Bumi, stasiun angkasa juga amat bermanfaat untuk berbagai tujuan lain, ilmiah maupun ekonomis. Untuk keperluan ilmiah, bidang astronomi sudah melihat manfaat yang diperoleh dari teleskop Hubble yang dipangkalkan di ruang angkasa. Kita semua mengetahui, bahwa atmosfer bumi, yang kini semakin terkena polusi, tidak kondusif untuk kegiatan observasi langit. Untuk m l epaskan diri dari kendala itu, orang harus berada di luar atmosfer, yang berarti di ruang angkasa.


Melalui stasiun seperti Skylab dan Mir memang sudah banyak diperoleh pengetahuan baru mengenai berbagai proses dan fenomena semesta.


Selain itu, lingkungan tanpa gaya berat yang ada di ruang angkasa rupanya juga dilihat sebagai nilai plus untuk penyelidikan mengenai bahan industri. Para peneliti mengetahui, bahwa pada lingkungan tanpa gaya berat bahan bercampur dengan baik. Pengetahuan ini bisa dimanfaatkan untuk membuat kristal lebih murni, baik untuk bahan farmasi/obat-obatan, maupun untuk bahan industri lain. Fungsi ini, menyongsong era persaingan ekonomi yang makin kompetitif, jelas akan diperlukan.


Seiring dengan itu, makin terbatasnya sumberdaya alam bumi yang ada membuat manusia perlu menginventarisasi sumberdaya alam baru yang mungkin makin terbatas dan sulit dicari. Adanya anjungan angkasa dalam bentuk stasiun orbit yang bisa berkali-kali menyisir wilayah-wilayah Bumi pasti akan membantu upaya ersebut. Kini pun, misi terakhir untuk penyelamatan Mir juga membawa kamera penginderaan jauh.


Satu lagi aspek penting yang ada pada stasiun angkasa adalah pemanfaatan untuk observasi militer. Meski sekarang tidak ada lagi ancaman serius yang berkaitan dengan konflik antarkekuatan besar di dunia, doktrin udara (yang diperluas ke wilayah antariksa) menggariskan, bahwa siapa yang menguasai udara/antariksa punya keunggulan lebih dibanding lawan yang tidak menguasainya. Fungsi ini memang sekarang banyak dilakukan oleh pesawat dan satelit mata-mata. Tetapi jelas, bahwa penguasaan teknologi anjungan angkasa memberi keuntungan strategis untuk bila sewaktu-waktu dibutuhkan bisa dimanfaatkan untuk tujuan militer. Kalaupun bukan untuk menghadapi lawan dari Bumi, siapa tahu menghadapi penyerbu asing. Sementara ini pada masa damai stasiun ruang angkasa digunakan sepenuhnya untuk tujuan-tujuan damai.

ISS dan persoalannya


Uraian di atas memperlihatkan, bahwa baik untuk mempersiapkan perjalanan panjang antarplanet, dalam hal ini untuk mengetahui dampak kegiatan seperti itu bagi tubuh dan kesehatan manusia, baik untuk penelitian alam semesta yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya, baik untuk tujuan praktis di bidang ekonomi industri, dan bahkan baik untuk tujuan militer, stasiun ruang angkasa memperlihatkan kemanfaatannya.


Atas dasar pertimbangan itulah, Rusia mengembangkan stasiun Salyut seri 1 sampai 7, dilanjutkan oleh stasiun Mir. AS mengembangkan Skylab, dan kini bersama dengan sejumlah mitra internasional seperti Jepang, Rusia, dan Eropa, dalam proses menyelesaikan stasiun angkasa yang dikemas dalam proyek ISS (International Space Station).


Ini memang proyek internasional yang sebelumnya muncul setelah melalui perundingan panjang. Sayang proyek yang bernilai 50 milyar sampai 100 milyar dollar dan bertujuan untuk menempatkan stasiun megah di ketinggian 373 km di atas Bumi ini banyak digerogot oleh berbagai ganjalan.


Sebagai bangsa yang mencetuskan ide ISS pertama kali ide ini dilontarkan oleh Presiden Ronald Reagan tahun 1984 kini AS memang merupakan penyandang dana terbesar bagi proyek ini. Saat dicetuskan oleh Presiden Reagan, stasiun yang dimaksud diperkirakan akan selesai dalam tempo delapan tahun dengan biaya delapan milyar dollar.


Tetapi ketika para insinyur mulai menggambar, segera muncul berbagai hal yang pelik. Versi demi versi dimunculkan, tetapi ditolak, karena dinilai terlalu mahal, terlalu jelek, terlalu berbahaya untuk membangunnya. Sampai tahun 1992, sudah dihabiskan 10 milyar dollar untuk merencanakannya saja. (Time, 10/4/2000)



Kini, ada 16 negara yang ambil bagian dalam proyek ISS, termasuk Rusia yang berjanji akan menyumbangkan perangkat keras (seperti modul servis) dan pengetahuan (know-how). Tetapi dengan ekonomi yang anjlok, birokrasi yang ruwet, Rusia pun terlambat menepati batas waktu penyerahan. Ini memaksa AS untuk mengambil alih pekerjaan dan membayar pengeluaran.


Hal yang membuat keadaan lebih buruk, tukang kritik termasuk banyak ilmuwan angkasa yang pandangannya menjadi pertimbangan bagi pembangunan stasiun tersebut malah mengatakan, bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dirancang untuk dilakukan dalam ISS akan lebih baik dilakukan oleh satu wahana robot, dimana eksperimen sensitif bisa dilakukan t npa peran serta astronot.


Namun dalam pandangan Amerika, seperti diungkapkan oleh Jeffrey Kluger dalam laporannya di Time, ISS akan diselesaikan. Ada banyak kontraktor kedirgantaraan di distrik-distrik anggota Kongres yang kuat kini sedang berihtiar keras untuk mengatasi semua persoalan yang ada. Pada tahun 1998, dua modul pertama sudah diluncurkan ke orbit, dan yang ketiga milik Rusia dijadwalkan diluncurkan Juli mendatang. Tahun 2006 stasiun ini diharapkan sudah operasional, dan AS satu generasi lebih tua dan sekian milyar lebih miskin harus memutuskan akan mengerjakan apa dengan stasiun tersebut.



Apa yang dikemukakan oleh Kluger di atas mungkin saja mengandung kebenaran, meski ada nuansa kesal. Tetapi apa yang dikemukakan di atas, kalau pun tidak dalam jangka dekat ya jangka panjang, tetap berlaku. Pertama, karena tuntutan kebutuhan dan persaingan, ekonomi ataupun militer. Kedua, sifat manusia, apalagi untuk bangsa Amerika, adalah penuh rasa ingin tahu. Stasiun ruang angkasa seperti ISS menawa k an banyak peluang untuk menjawab berbagai rasa ingin tahu tersebut, pertama memuaskan semangat ilmiah, dan berikutnya untuk ditransformasikan ke dalam bidang-bidang praktis di sektor teknologi dan ekonomi.



Stasiun ruang angkasa rusia MIR









Badan Ruang angkasa rusia!


Badan Antariksa Federal Russia (bahasa Rusia:Федеральное космическое агентство, dulunya Badan Penerbangan dan Antariksa Rusia (RKA; dalam bahasa Rusia: Российское авиационно-космическое агентство)) adalah agensi pemerintah yang bertanggung jawab untuk program ilmu angkasa Rusia dan riset aeroangkasa umum.


Sejarah


RKA dibentuk setelah pemecahan bekas Uni Soviet dan pembubaran program angkasa Soviet. RKA menggunakan teknologi dan situs peluncuran yang dulunya milik program angkasa Soviet. RKA telah memusatkan kontrol program angkasa masyarakat Rusia, termasuk seluruh penerbangan angkasa berawak dan tak-berawak non militer.


Badan Antariksa Rusia, seperti program angkasa Soviet sebelumnya terhambat oleh kurangnya pendanaan yang telah merumitkan usaha dari misi bulan sampai kerja sama dalam ISS. Namun pada 2005 rangkaian pendanaan masa depan terlihat lebih baik, karena pemerintah Rusia telah menyetujui 425 milyar rubel (sekitar 15 milyar dolar AS) untuk program angkasa Rusia dari 2006-2015 [1]. Pendanaan untuk 2006 akan mencapai 27 milyar rubel (sekitar 900 juta dolar AS).


Program sekarang


Agensi Angkasa Rusia merupakan salah satu partner NASA dalam program Stasiun Angkasa Internasional (ISS). RKA juga menyediakan pariwisata angkasa untuk penumpang yang membayar-biaya kepada ISS melalui perusahaan Space Adventures.


RKA mengoperasikan beberapa program lainnya untuk ilmu bumi, komunikasi, dan riset ilmiah. Proyek masa depan termasuk penerus pesawat angkasa Soyuz "shuttle" Kliper (dibuat dalam kerja sama dengan ESA), misi robot ilmiah ke salah satu bulan planet Mars dan juga penambahan satelit riset mengorbit Bumi.



Markas Badan Penerbangan dan Antariksa Rusia ada di Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan.


RKA dikepalai oleh Anatoly Perminov, yang tugasnya seluruhnya sejalan dengan administrator NASA. RKA mempekerjakan sekitar 300 orang, sebanyak kerja itu dikontrak. Kontraktor utama yang digunakan oleh RKA ialah Kompleks Roket dan Antariksa Energiya, yang memiliki dan mengoperasikan Pusat Kontrol Misi di Korolyov, dan terjadi dalam proyek Stasiun Luar Angkasa Internasional. Tugas Energiya yang sebelumnya adalah mengoperasikan stasiun luar angkasa Mir. Perusahaan itu mengembangkan penggerak Energiya yang kuat yang merupakan kendaraan luncur berat dan digunakan untuk mengorbitkan Buran ke luar angkas.


Kendali peluncuran


Mitra militer RKA ialah Angkatan Antariksa Militer (VKS). VKS mengendalikan fasilitas luncur Kosmodrom Plesetsk Rusia. RKA dan VKS berbagi kendali atas Kosmodrom Baikonur, di mana RKA membayar kembali VKS untuk biaya sejumlah pengontrol penerbangan selama peluncuran sipil. RKA dan VKS juga berbagi kontrol atas Pusat Pelatihan Antariksawan Yuri Gagarin.



Persaingan Menaklukkan Angkasa Luar



SELASA 9 Agustus 2005 pesawat ulang-alik Discovery pulang ke bumi, setelah menjelajah angkasa. Sebelumnya NASA telah sukses mengorbitkan Discovery 26 Juli lalu. Tepat pukul 10.39 waktu setempat (pukul 21.39 WIB), Discovery membelah langit biru nan cerah di pusat peluncuran NASA, Cape Canveral Florida. Peristiwa bersejarah itu mengakhiri penantian dua setengah tahun setelah tragedi Columbia. Columbia meledak di udara 1 Februari 2003, setelah pesawat tersebut memasuki atmosfir bumi dalam proses pendaratan.


Pesawat ulang-alik mulai dikembangkan sejak akhir dasawarsa 1970-an. Sebelumnya roketlah yang digunakan untuk penerbangan antariksa. Teknologi roket yang merupakan dasar dari sistem penerbangan antariksa pada mulanya dikembangkan untuk keperluan persenjataan. Adalah Wehrner Von Braun, ilmuwan Jerman, yang mengawali penggunaan teknologi roket. Saat itu dia direkrut Hitler untuk mengembangkan misil V2, sebuah peluru kendali dengan teknologi roket dalam masa Perang Dunia II.


Saat perang usai, Von Braun pindah ke AS dan membantu pengembangan teknologi roket untuk kepentingan penerbangan antariksa di sana. Namun entah kenapa, cetak biru V2 kemudian jatuh ke tangan Rusia, dan digunakan sebagai acuan mengembangkan roket sendiri. Kedua negara adidaya itu kemudian terlibat dalam persaingan sengit untuk mengeksplorasi ruang angkasa.


Dalam pengembangan teknologi roket, Rusia unggul lebih dulu dengan keberhasilannya meluncurkan satelit buatan yang pertama di dunia dengan nama Sputnik I pada 4 Oktober 1957. AS kemudian menyusul dengan meluncurkan satelit pertamanya yang dinamai Explorer I pada 31 Januari 1958. Pada 12 April 1961, Rusia kembali memimpin dengan meluncurkan manusia pertama ke angkasa luar, Yuri Alekseyivich Gagarin, seorang mayor Angkatan Udara Rusia yang meluncur dengan kapsul Vostok I. Kurang dari sebulan kemudian, AS yang kebakaran jenggot karena terus didahului Rusia meluncurkan astronot pertamanya, Alan B Shepard, dengan kapsul Mercury 7. Peluncuran ini dilakukan secara terburu-buru dengan teknologi yang belum matang sehingga Shepard hanya mampu mengangkasa selama 15 menit dengan ketinggian maksimal 184 km. Padahal, Gagarin bisa mengangkasa selama 108 menit dengan ketinggian maksimal 301,4 km dalam sekali orbit.


Misi Shepard pun sebenarnya hanyalah penerbangan naik-turun dan tidak sampai mengorbit bumi. Wajar kalau Rusia mengejek misi ini sebagai "penerbangan kutu loncat". AS baru berhasil mengirimkan pesawat pengorbit pada 20 Februari 1962, ketika kapsul Friendship 7 yang diawaki oleh Letkol John Herschel Glenn berhasil melakukan 3 kali orbit dalam penerbangan selama 4 jam 56 menit. Prestasi ini masih kalah jauh dari kemajuan yang dicapai Rusia pada 6 bulan sebelumnya, ketika Mayor German Stephanovich Titov berhasil mengorbit 17 kali dalam penerbangan selama 25 jam 18 menit dalam kapsul Vostok II.


Bulan menjadi sasaran berikutnya dari kedua negara yang sedang bersaing itu. Rusia lagi-lagi mendahului dengan mengirim wahana tak berawak Lunik II pada 14 September 1959. Wahana ini tercatat sebagai wahana buatan manusia pertama yang mendarat di permukaan bulan. Sayangnya, Lunik II mendarat secara keras. Akibatnya seluruh peralatan yang dibawa rusak sehingga tidak mampu mengirimkan data apa pun ke bumi. Rusia baru berhasil mendaratkan wahana yang mampu melakukan pendaratan lunak pada Februari 1966 melalui wahana Lunik IX.


AS pun, walaupun pada awalnya sempat tertinggal, telah berhasil mengirimkan wahana untuk melakukan pendaratan lunak pada 1966. Setahun kemudian, sebuah wahana AS lainnya berhasil mengirimkan gambar TV pertama dari permukaan bulan. Puncaknya terjadi pada 17 Juli 1969, ketika Neil Armstrong dan Edwin Aldrin berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai manusia pertama yang menginjak permukaan bulan melalui misi Apollo-11. Misi ini dilanjutkan dengan 5 pendaratan lainnya, masing-masing Apollo-12 (November 1969), Apollo-14 (Februari 1971), Apollo-15 (Agustus 1971), Apollo-16 (April 1972), dan terakhir, Apollo-17 (Desember 1972). Misi Apollo juga pernah mencatat kegagalan, tepatnya menimpa misi Apollo-13 yang kecelakaan (ledakan pada salah satu modulnya). Untunglah para awak Apollo 13 dapat kembali dengan selamat ke bumi, walaupun gagal menjejak ke permukaan bulan.


Sementara itu, Rusia tercatat pernah mengirimkan modul Lunkhod I pada 17 November 1970. Modul ini berupa robot yang dikendalikan dari bumi. Namun sesudahnya program antariksa Rusia di bulan tidak lagi berlanjut. Begitu pula AS. Setelah berakhirnya misi Apollo-17, AS tidak lagi mengirimkan manusia ke bulan. Alasannya, boros dan berisiko.


Ulang-alik


AS lalu mengembangkan pesawat ulang-alik. Misi ulang-alik dinilai lebih murah karena hampir seluruh komponennya dapat dipergunakan kembali pada misi-misi sesudahnya. AS mencatat sejarah dengan keberhasilannya meluncurkan pesawat ulang-alik pertamanya, Columbia, pada Juni 1981. Dengan digunakannya teknologi ulang-alik, terbuka kesempatan untuk meluncurkan misi berawak dengan frekuensi yang lebih sering dengan pembiayaan yang lebih kecil. Bahkan saat peluncuran perdana Columbia, pihak NASA (Badan Luar Angkasa AS) mematok target untuk meluncurkan setidak-tidaknya satu misi berawak tiap minggu.


Namun, dalam kenyataannya target itu tidak pernah tercapai. Misi ulang-alik pun mulai dipertanyakan efektivitas dan efisiensinya, mengingat dana yang diserap ternyata tidak jauh berbeda daripada era roket sekali pakai yang sudah ditinggalkan NASA. Nahas yang menimpa pesawat ulang-alik Challenger yang meledak saat peluncuran (28 Februari 1986) dan menewaskan ketujuh awaknya membuat NASA merestrukturisasi kembali program ulang-aliknya, khususnya dalam persoalan keamanan. Namun teknologi ulang-alik itu tidak banyak berubah, bahkan selama lebih dari 20 tahun sejak pertama kali digunakan.


Puncaknya terjadi pada peristiwa kecelakaan yang menimpa Columbia. Peristiwa yang menewaskan tujuh awak tersebut kembali membuka perdebatan mengenai keamanan serta kepentingan misi ulang-alik. Buntut dari kecelakaan ini adalah dibekukannya program luar angkasa AS sambil mengkaji kembali berbagai faktor dalam penerbangan ulang-alik. Sepeninggal Challenger dan Columbia, AS masih memiliki tiga pesawat ulang-alik lain, yaitu Discovery, Atlantis, dan Endeavour. Ditambah dengan satu prototipe yang tidak pernah mengudara, Enterprise, yang kini menghuni museum Smithsonian.


Sementara itu, dalam mengatasi ketertinggalannya dari AS, Rusia tercatat juga mengembangkan pesawat ulang-alik sendiri yang diberi nama Buran. Tahun 1988, Buran diuji coba dalam sebuah penerbangan tanpa awak. Sayangnya, krisis politik dan ekonomi yang melanda Uni Sovyet sesaat sebelum bubar membuat proyek Buran tersendat, bahkan terhenti sama sekali sebelum berkembang.


Pecahnya Uni Soviet akhirnya juga membawa malapetaka bagi program antariksa Rusia. Pangkalan peluncuran Rusia yang berada di Tyuratam (kosmodrom Baikonur) kini telah masuk wilayah Kazakhstan, sebuah negara kecil yang secara ekonomi tidak begitu makmur. Rusia harus membayar ongkos sewa untuk dapat terus menggunakan pangkalan tersebut. Padahal Rusia sedang krisis moneter. Walhasil, setelah Soviet bubar, program ruang angkasa Rusia sempat tersendat selama beberapa waktu.


Kondisi ini membuat Rusia kreatif mencari dana untuk membiayai program luar angkasanya. Dengan membayar biaya sekitar 20 juta dolar AS, siapa saja bisa mengikuti penerbangan antariksa Rusia. Dengan cara ini , Dennis Tito, seorang miliarder asal AS, akhirnya bisa tercatat sebagai turis antariksa yang pertama dalam sejarah. Belakangan, Rusia berniat menjadikan program "turis antariksa" ini sebagai salah satu cara memperoleh dana segar guna melanjutkan program luar angkasanya.


Kini teknologi roket tidak lagi menjadi monopoli AS atau Rusia. Jepang, India, China, dan Uni Eropa juga telah berhasil mengembangkan teknologi roket. Keberhasilan China meluncurkan misi berawak ke antariksa pada Oktober 2003 telah menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbangan antariksa.


Modifikasi Komputer yang Keren dan UNIK di Jerman






























sumber :http://faroutworld.blogspot.com/2007/07/innovative-german-computer-moddings.html