Tampilkan postingan dengan label Nyawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyawa. Tampilkan semua postingan

32 Nyawa Melayang Akibat Ulah Bus Sumber Kencono

Data mencengangkan dikeluarkan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jatim tentang kejadian kecelakaan yang melibatkan bus Sumber Kencono (SK). Dalam kurun 2 tahun, bus ini mengalami kecelakaan sebanyak 61 kali, hingga mengakibatkan 32 nyawa melayang.

Kecelakaan yang melibatkan bus Sumber Kencono ini terjadi hampir di beberapa wilayah hukum Polda Jawa Timur. Dari 122 orang korban kecelakaan itu, diantaranya 32 orang meninggal dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun detiksurabaya.com, Rabu (15/9/2010) dari Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jatim, jumlah kejadian tabrakan bus Sumber Kencono selama tahun 2009 mencapai 31 kejadian dan menyebabkan 69 korban, diantaranya 17 orang meninggal dunia. Sedangkan pada tahun 2010, kecelakaan yang melibatkan Sumber Kencono mencapai 30 kejadian dan menimbulkan korban 53 orang, 15 orang diantaranya tewas.

Untuk wilayah Polres Sidoarjo yang dilalui Bus Sumber Kencono, pada tahun 2009 terjadi sebanyak 4 kali, yang mengakibatkan 4 orang meninggal dunia dan 1 orang mengalami luka berat. Sedangkan pada tahun 2010, menimbulkan korban 6 orang terdiri dari 4 meninggal dunia dan 2 orang mengalami luka ringan.

Di wilayah Polres Mojokerto selam tahun 2009 nihil tidak terjadi kecelakaan. Namun pada tahun 2010, bus yang dikenal cepat lajunya itu terlibat tabrakan sebanyak 4 kali, mengakibatkan 17 korban terdiri dari 2 orang tewas, 6 orang luka berat dan 9 orang luka ringan.

Data dari Polres Jombang, selama tahun 2009 sebanyak 2 kali kejadian, yang mengakibatkan 2 korban terdiri 1 orang tewas dan 1 orang luka ringan. Di tahun 2010, terlibat kecelakaan sebanyak 4 kali yang menimbulkan 7 orang korban, diantaranya 4 orang tewas dan 3 orang luka ringan.

Di wilayah Polres Nganjuk selama tahun 2009, sebanyak 7 kali tabrakan yang menimbulkan 13 orang korban, diantaranya 2 orang tewas dan 11 orang luka ringan. Sedangkan di tahun 2010, sebanyak 2 kali kejadian yang mengakibatkan 2 orang luka ringan.

Polres Madiun selama tahun 2009 sebanyak 4 kali dan mengakibatkan 6 orang korban. Diantaranya 3 orang meninggal dunia, 1 orang luka berat dan 2 orang luka ringan. Sedangkan di tahun 2010, sebanyak 5 kali tabrakan dan mengakibatkan 6 orang korban, diantaranya 2 orang meninggal dunia, 2 orang luka berat dan 2 orang luka ringan.

Dari daerah yang dilintasi bus Sumber Kencono, paling banyak tabrakannya di daerah Kabupaten Ngawi. Pada tahun 2009 di Ngawi, Sumber Kencono terlibat tabrakan sebanyak 14 kali yang mengakibatkan 46 orang korban. Dari 46 korban itu, 9 orang tewas, 16 orang luka berat dan 21 orang luka ringan. Sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 1o kali kejadian, yang menimbulkan korban 15 orang, diantaranya 3 orang tewas, 6 orang luka berat dan 6 orang luka ringan.
 
http://anasarema.blogspot.com/2010/09/32-nyawa-melayang-akibat-ulah-bus.html

Kelapa Ini Selamatkan Nyawa Nelayan


Seorang nelayan Papua Nugini berusia 20 tahun berhasil diselamatkan setelah hilang di laut selama tiga minggu.

Benedict Jor hilang saat dalam perjalanan menangkap tuna, ketika secara tiba-tiba angin dan ombak laut membawa kapalnya keluar jalur.

Dia selamat dengan memakan kelapa dan mengumpulkan air hujan, serta tidur dibawah selimut yang merupakan tumpukan daun pisang yang digunakan untuk melindungi diri dari kucuran hujan lebat.

Dia berhasil diselamatkan ketika awak satu kapal Australia melihat kapalnya.

Benedict Jor sempat beberapa kali melihat kapal melewatinya, namun dia tidak terlihat meskipun dia melambaikan tangan dan berteriak dengan sekuat tenaga.

Nelayan ini akhirnya diselamatkan di Selat St Andrew di lepas pantai Papua Nugini oleh satu kapal kargo Australia yang berlayar dari Melbourne ke Cina.

Awak kapal melihat seorang pria sendirian di atas kapal kecil yang setengah tenggelam di lokasi perairan yang terletak lebih dari 90 km di lepas pantai Papua Nugini.

Nelayan ini dirawat setelah menderita dehidrasi dan kedinginan.

Dia belum berhasil menghubungi keluarganya yang dipastikan sudah pasrah akan nasibnya.

Benedict Jor akan diterbangkan ke Papua Nugiri dari Australia akhir minggu ini.
http://anasarema.blogspot.com/2010/09/kelapa-ini-selamatkan-nyawa-nelayan.html

Petir Pencabut Nyawa


Walau sudah zaman teknologi tinggi, masih saja ada orang tewas hanya gara-gara tersambar petir. Fenomena alam ini rupanya tak pilih korban. Tak hanya anak desa, seorang pejabat di Batam pun pernah roboh tersambar. Awas, di musim hujan ini “mereka” tengah gentayangan mengincar korban.
Fenomena Alam Pencabut Nyawa
Kedengarannya memang ironis. Walau sebentar lagi umat manusia akan memasuki era millennium ketiga yang amat sarat dengan teknologi dan kebudayaan tinggi, masih saja ada tragedi yang mengingatkan kita pada zaman para dewa. Dahulu kala, menurut legenda Yunani, konon Bumi ini dikuasai sejumlah dewa, di antaranya adalah Zeus, Dewa Petir. Ia bisa menghukum siapa saja dengan petir yang bisa dilecut dari tangannya. Tiada ampun bagi korbannya.
Begitulah legenda. Namun lepas dari semua itu, kasus orang tersambar petir ternyata masih terjadi pada masa yang telah begitu modern ini. Terlebih naif sendiri, setelah lebih dari empat abad Benjamin Franklin menaklukkan petir dengan layang-layang yang digantungi kunci itu. Dalam hal ini, para pembaca budiman mungkin masih ingat dengan musibah yang dialami seorang pejabat di Batam beberapa tahun lalu ketika sedang mengayunkan stick golf-nya. Tanpa dinyana ia langsung roboh setelah sebuah petir menyambarnya.
Selain itu, tentunya masih segar dalam ingatan kita betapa menyedihkan nasib tiga dari delapan anak dari Kampung Parigi Kecamatan Pondok Aren, Tangerang, Jawa Barat, yang pada suatu sore (9/10) tengah bermain di sebuah persawahan. Mereka tewas seketika dengan tubuh hangus, juga akibat sambaran petir. Sore itu, seperti biasa mereka berhamburan meneduh ke sebuah gubuk yang ada di tengah persawahan begitu hujan tiba-tiba turun. Mereka pun tak pernah menaruh syak wasangka ketika petir mulai menyambar-nyambar, hingga suatu ketika sebuah di antaranya “terkirim” tepat mengenai gubuk tempat mereka meneduh. Rohmin, Uslani, dan Solihin langsung terjungkal tewas dengan tubuh hangus terbakar. (Kompas, 12/10)
Di rumah sakit Ashobirin, selagi masih dirawat akibat shock, Usriandi kakak Uslani yang sama-sama ikut berteduh di gubuk nahas itu, menceritakan kegetiran yang terjadi. “Ketika itu hujan memang deras. Tiba-tiba saja petir menyambar dan saya segera tak sadarkan diri.”
Umumnya petir-petir pencabut nyawa ini memang mengincar korban yang tengah “bercanda” di wilayah datar yang terbuka. Di negara yang sudah terbilang maju sekalipun, seperti di Inggris, kasus petir makan korban juga masih terjadi. Salah satu kasus terjadi pada 14 September beberapa tahun lalu. Ketika itu seorang pria dewasa yang tengah melintas Taman Finsbury, London, tiba-tiba terpental ketika sebuah petir menyambarnya. Seperti juga korban lainnya, ia tewas seketika dengan tubuh terbakar.
Terdorong rasa ingin tahu yang mendalam, seorang fisikawan lalu melakukan penelitian terhadap tubuh korban. Menurut pengamatannya, pola lintasan arus listrik yang begitu tinggi dari sang petir nampak mengikuti jalur pembuluh darah vena. “Lintasannya mulai dari leher atas bahu sebelah kanan lalu melintas dada hingga rongga perut depan bagian bawah. Pola yang terjadi memang tak selalu demikian, namun nampaknya listrik petir mencari bagian tubuh yang memiliki resistensi rendah,” ujarnya.
1.000.000 Volt
Menurut batasan fisika, petir adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Prinsip dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi. Di alam sekitar kita, petir biasa terjadi pada awan yang tengah membesar menuju awan badai (Cumulonimbus). Sedemikian raksasanya sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya. Dan, sebagai akibat udara yang terbelah, sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik itu juga akan menimbulkan suara yang menggelegar, bunyi yang kemudian biasa kita sebut geluduk, guntur, atau halilintar. Dalam musim penghujan seperti saat inilah awan-awan jenis ini banyak terbentuk.
Di lain kesempatan, ketika akumulasi muatan listrik dalam awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik (eletric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah Bumi. Penghubung yang “digemari”, merujuk Hukum Faraday, tak lain adalah bangunan, pohon, atau tiang-tiang metal berujung lancip.
Memang belum pernah ada ilmuwan yang pernah menekuni langsung bagaimana terjadinya fenomena alam ini. Namun, mereka menduga hingga lompatan bunga api listriknya sendiri terjadi, ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui. Pertama adalah pemampatan muatan listrik pada awan bersangkutan. Umumnya, akan menumpuk di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif; di bagian tengah adalah listrik bermuatan positif, sementara di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan positif. Pada bagian bawah inilah petir biasa berlontaran.
Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter. Bayangkan betapa mengerikannya jika lompatan bunga api ini mengenai tubuh makhluk hidup!
Akibat kondisi tertentu, Bumi yang cenderung menjadi peredam listrik statis, bisa pula ikut berinteraksi. Hal ini dimungkinkan jika pada suatu luasan tertentu terjadi pengkonsentrasian listrik bermuatan positif. Apakah itu di bawah bangunan atau pohon. Ketika beda muatan antara dasar awan dengan ujung bangunan/pohon sudah mencapai batas tertentu, akan menjadi suatu kejadian lumrah jika kemudian terjadi perpindahan listrik. Maka secara fisik kita akan melihatnya sebagai petir menyambar bangunan atau pohon. Muatan yang begitu besar selanjutnya akan segera menyebar ke seluruh bagian bangunan/pohon, untuk kemudian menjalar ke tanah dan ternetralisasi pada kedalaman yang mengandung air tanah.
Kondisi seperti itu sudah pasti amat berbahaya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika sambarannya tak terlampau kuat, korbannya paling hanya mengalami cedera dan/atau shock. Namun jika serangannya kuat, seperti dialami tiga orang anak dari Kampung Parigi itu, korbannya akan tewas seketika karena selain terbakar ia akan menjadi “penghantar” listrik yang besarnya mencapai ribuan volt.
Kemajuan teknologi sebenarnya telah memungkinkan cara-cara pengendalian arus listrik yang begitu besar dari langit itu. Yakni, dengan penangkal petir di mana arus listrik yang begitu besar ditangkap sebuah atau sejumlah pucuk tembaga runcing lalu dialirkan lewat “jalan tol” berupa kawat tembaga yang terpasang di sisi bangunan dan langsung dibawa menuju air tanah.
Menurut penelitian, daerah serbuan petir sendiri tak selamanya merupakan daerah yang dinaungi awan-awan besar. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa suatu daerah pernah mendapat sambaran petir hebat meski langit di atasnya bersih dari awan. Contoh paling ekstrem yang pernah dicatat terjadi di Hereford, Inggris. Suatu ketika sebuah petir kuat menyerbu sebuah gedung setelah petir ini menempuh perjalanan sekitar lima mil dari “pusatnya”. Dari kejauhan sejumlah saksi melihatnya sebagai pemandangan yang begitu indah sekaligus mengerikan. (Handbook of Unusual Natural Phenomena, 1986).
Itu sebabnya di musim hujan kita lebih baik tak usah bermain-main di wilayah terbuka atau bernaung di bawah pohon pada saat hujan. Ini semata-mata untuk menghindar dari kemungkinan yang tak diinginkan. Sebab, kita tak pernah bisa menduga apakah tanah yang sedang kita pijak telah berpotensi menjadi penarik petir atau tidak.

Demi Sebuah Foto, Nyawa Pun Gak Jadi Masalah

haduh haduh .... demi sebuah foto .. nyawa pun ngga masalah kali yaa....


Photographer