Jakarta–Stres akibat rutinitas bekerja seringkali tidak disadari, hingga akhirnya menumpuk lalu menjadi penyakit. Padahal tanda-tanda stres bisa dikenali dari hal-hal sepele yang sering terlupakan.
Seperti dikutip dari Health24, Selasa (7/9), hal-hal kecil yang bisa menandakan sudah waktunya seseorang harus beristirahat di antaranya adalah sebagai berikut.
* Tidak tenang
Mudah lupa, tidak percaya diri dan tidak bisa fokus pada satu pekerjaan bisa menandakan bahwa seseorang tengah dilanda stres. Jika menghadapi kondisi seperti ini, sebaiknya hentikan aktivitas sejenak lalu beristirahatlah sembari minum secangkir teh hangat.
* Sering menguap
Jika tidak mengantuk tetapi rasanya ingin menguap sepanjang hari, itu tandanya sedang dilanda stres. Tanpa disadari, stres memicu pernapasan dangkal sehingga orang jadi sering menguap untuk mendapatkan suplai oksigen yang cukup.
* Berkeringat sepanjang hari
Stres memicu pelepasan hormon catecholamine yang membuat darah menjadi lebih kental, sehingga tekanannya meningkat dan tubuh menjadi mudah berkeringat. Jika dibiarkan, lama-lama kondisi ini bisa memicu serangan jantung dan kematian lebih awal.
* Bau badan
Karena menjadi sering berkeringat, wajar jika seseorang yang sedang dilanda stres juga akan bermasalah dengan bau badan. Masalah ini bisa diatasi dengan deodoran serta mandi lebih sering, namun akan lebih baik jika dicari dulu penyebab stres yang sesungguhnya lalu diatasi sampai tuntas.
* Penyalahgunaan zat adiktif
Tidak selalu berwujud alkohol dan narkotika, kopi dan rokok juga merupakan zat adiktif yang paling sering dijadikan pelarian ketika stres melanda. Zat-zat tersebut memang bisa membuat rileks, namun hati-hati karena bisa menyebabkan adiksi atau kecanduan.
* Mulut kering
Stres menyebabkan pelepasan air liur berkurang, sehingga menyebabkan mulut kering, bau napas tidak sedap dan berbagai masalah mulut lainnya. Kondisi ini hanya bisa diatasi degnan minum air putih banyak-banyak.
* Nyeri otot
Saat berada dalam tekanan psikis, otot akan berkontraksi lebih kuat sehingga sering berakhir dengan rasa nyeri terutama pada punggung bagian bawah. Lakukan peregangan sesering mungkin, jika perlu istirahatkan dengan merebahkan diri sejenak di sofa.
Sakit kepala
Tekanan darah yang meningkat serta kontraksi otot di mana-mana pada akhirnya akan berdampak ke saraf otak. Kepala terasa nyeri, sehingga butuh relaksasi berupa mandi air panas atau pijat untuk meredakannya.
* Batuk
Melemahnya daya tahan tubuh karena stres menyebabkan sering batuk meski tidak sedang terserang flu. Gelisah juga dapat memicu iritasi lambung yang dicirikan dengan masuk angin, nyeri dada serta diare.
* Rambut berketombe
Daya tahan tubuh yang melemah juga berdampak pada kulit kepala. Sedikit saja lengah, infeksi jamur mejadi lebih mudah menyebabkan ketombe saat sedang dilanda stres.
* Kaki gelisah
Keseimbangan kimiawi dalam tubuh terganggu selama stres, sehingga gerakan kaki menjadi tidak terkontrol terutama saat tidur. Kaki rasanya tidak mau diam, selalu bergerak dan kadang-kadang ingin menendang.
Solopos.com
Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stres. Tampilkan semua postingan
7 Trik Menciptakan Keluarga Bebas Stres !

Adakah keluarga yang stres? Ada, mungkin Anda akan menjawab, keluarga yang selalu diliputi rasa curiga, cemburu dengan perhatian orangtua yang berat sebelah pada saudara kandung, pekerjaan rumah yang melelahkan, orangtua yang kelewat mengekang, dan lain sebagainya.
Kini Anda telah memiliki keluarga kecil sendiri, dan tentunya berharap masa kecil Anda yang penuh keributan terulang lagi. Ketika para peneliti mengamati kehidupan 32 keluarga selama empat hari berturut-turut, mereka menemukan apa yang membuat sebuah keluarga stres. Dengan sendirinya, ditemukan juga apa yang bisa membuat kehidupan sebuah keluarga berjalan lebih santai dan menyenangkan. Anda bisa membacanya di bawah ini.
1. Tidak membagi-bagi pekerjaan rumah tangga
"Ternyata, ini bukan persoalan betapa adilnya pasangan berbagi tugas," kata peneliti Tami Kremer-Sadlik, PhD, direktur penelitian di Center on the Everyday Lives of Families di UCLA. Penelitiannya mendapati bahwa suami-istri akan lebih bahagia ketika keduanya merasa sedang berusaha mencapai tujuan yang sama, tanpa memandang siapa yang bekerja lebih keras (perempuan biasanya merasa demikian). Mengetahui apa misi Anda berdua untuk keluarga bisa menyingkirkan jauh-jauh konflik akibat pembagian tugas ini.
2. Memiliki momen kebersamaan
"Mungkin banyak dari kita yang memikirkan bahwa kita perlu menciptakan suasana kebersamaan yang heboh, tapi sedikit sekali keluarga yang memiliki kesempatan untuk berhubungan sepanjang hari," kata Kremer-Sadlik.
Ia ingat suatu kejadian dimana ibu dan anak perempuannya sedang melipat baju-baju yang sudah kering. Anak perempuan itu lalu memasang kaus kaki di kakinya, lalu meminta ibunya menebak dimana kakinya di antara tumpukan pakaian tersebut. "Itu momen yang menyenangkan sekali, tertawa dan bermain di sela-sela kegiatan sehari-hari."
3. Orangtua menjadi role model, bukan teman si anak
Banyak orangtua yang bercita-cita menempatkan diri sebagai teman untuk anaknya, agar tidak ada jarak di antara mereka. Ini bagus, tapi jangan sampai kebablasan. Menghargai pasangan bukan hanya baik untuk hubungan perkawinan, tetapi juga mempengaruhi dinamika keluarga secara keseluruhan.
"Ketika pasangan menunjukkan kesabaran dan dukungan, dan bukannya tidak sabaran, sinis, atau senang mengkritik, anak-anak akan lebih menghargai orangtuanya, dan makin luweslah kehidupan rumah tangga tersebut," tutur Kremer-Sadlik lagi. "Tujuan mereka hari itu, seperti makan malam atau menyelesaikan pekerjaan rumah, akan berjalan lebih lancar dan menyenangkan."
4. Ibu memasak bersama anak
Menurut Margaret Beck, peneliti yang juga seorang ibu berusia 39 tahun, memanfaatkan makanan kemasan untuk makan seluruh keluarga tidak berarti akan menghemat waktu. "Rata-rata keluarga akan membutuhkan 1 jam untuk menyiapkan makan, entah itu dengan makanan kemasan atau bahan-bahan yang segar," ujarnya. Jika Anda ingin anak selalu memakan apa yang disediakan, ajaklah mereka memasak bersama. Anak yang membantu ibunya menyiapkan makanan selalu menghabiskan apa yang diberikan.
5. Ibu memiliki "me-time" selama 5 menit
Ada trik untuk menikmati waktu bersama keluarga setelah seharian bekerja di kantor. "Penemuan kami memperlihatkan, bahwa ketika perempuan tidak diganggu selama 5-10 menit, itu akan membawa pengaruh positif sepanjang hari yang tersisa," ungkap peneliti Shu-wen Wang, yang membantu menganalisa rekaman penelitian berdurasi 1.540 jam.
6. Nonton TV bareng
Tak usah merasa bersalah jika anak-anak selalu terlihat asyik menonton televisi, ketimbang melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Temani saja mereka nonton. "Keluarga yang menonton TV bersama menunjukkan banyak perilaku keterikatan," ujar Campos. Jadi, bila suatu ketika Anda sudah kehabisan energi untuk mengajak anak-anak jalan-jalan, nonton film bersama di rumah juga baik untuk keharmonisan keluarga. Jangan lupa, pilih film berkualitas yang bisa ditonton seluruh keluarga.
7. Melakukan ritual harian secara rutin
Wang mengatakan, ia yakin bahwa spontanitas dan kegembiraan bisa merekatkan hubungan keluarga. Tetapi untuk membentuk fondasi yang kuat, yang lebih penting kedua hal tersebut dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. "Entah pasangan menyisihkan waktu untuk duduk santai sambil minum kopi, atau orangtua membacakan dongeng untuk anak-anak sebelum tidur, momen-momen kecil ini membuat kehidupan keluarga sangat nyaman dan makin dekat," katanya.
Kini Anda telah memiliki keluarga kecil sendiri, dan tentunya berharap masa kecil Anda yang penuh keributan terulang lagi. Ketika para peneliti mengamati kehidupan 32 keluarga selama empat hari berturut-turut, mereka menemukan apa yang membuat sebuah keluarga stres. Dengan sendirinya, ditemukan juga apa yang bisa membuat kehidupan sebuah keluarga berjalan lebih santai dan menyenangkan. Anda bisa membacanya di bawah ini.
1. Tidak membagi-bagi pekerjaan rumah tangga
"Ternyata, ini bukan persoalan betapa adilnya pasangan berbagi tugas," kata peneliti Tami Kremer-Sadlik, PhD, direktur penelitian di Center on the Everyday Lives of Families di UCLA. Penelitiannya mendapati bahwa suami-istri akan lebih bahagia ketika keduanya merasa sedang berusaha mencapai tujuan yang sama, tanpa memandang siapa yang bekerja lebih keras (perempuan biasanya merasa demikian). Mengetahui apa misi Anda berdua untuk keluarga bisa menyingkirkan jauh-jauh konflik akibat pembagian tugas ini.
2. Memiliki momen kebersamaan
"Mungkin banyak dari kita yang memikirkan bahwa kita perlu menciptakan suasana kebersamaan yang heboh, tapi sedikit sekali keluarga yang memiliki kesempatan untuk berhubungan sepanjang hari," kata Kremer-Sadlik.
Ia ingat suatu kejadian dimana ibu dan anak perempuannya sedang melipat baju-baju yang sudah kering. Anak perempuan itu lalu memasang kaus kaki di kakinya, lalu meminta ibunya menebak dimana kakinya di antara tumpukan pakaian tersebut. "Itu momen yang menyenangkan sekali, tertawa dan bermain di sela-sela kegiatan sehari-hari."
3. Orangtua menjadi role model, bukan teman si anak
Banyak orangtua yang bercita-cita menempatkan diri sebagai teman untuk anaknya, agar tidak ada jarak di antara mereka. Ini bagus, tapi jangan sampai kebablasan. Menghargai pasangan bukan hanya baik untuk hubungan perkawinan, tetapi juga mempengaruhi dinamika keluarga secara keseluruhan.
"Ketika pasangan menunjukkan kesabaran dan dukungan, dan bukannya tidak sabaran, sinis, atau senang mengkritik, anak-anak akan lebih menghargai orangtuanya, dan makin luweslah kehidupan rumah tangga tersebut," tutur Kremer-Sadlik lagi. "Tujuan mereka hari itu, seperti makan malam atau menyelesaikan pekerjaan rumah, akan berjalan lebih lancar dan menyenangkan."
4. Ibu memasak bersama anak
Menurut Margaret Beck, peneliti yang juga seorang ibu berusia 39 tahun, memanfaatkan makanan kemasan untuk makan seluruh keluarga tidak berarti akan menghemat waktu. "Rata-rata keluarga akan membutuhkan 1 jam untuk menyiapkan makan, entah itu dengan makanan kemasan atau bahan-bahan yang segar," ujarnya. Jika Anda ingin anak selalu memakan apa yang disediakan, ajaklah mereka memasak bersama. Anak yang membantu ibunya menyiapkan makanan selalu menghabiskan apa yang diberikan.
5. Ibu memiliki "me-time" selama 5 menit
Ada trik untuk menikmati waktu bersama keluarga setelah seharian bekerja di kantor. "Penemuan kami memperlihatkan, bahwa ketika perempuan tidak diganggu selama 5-10 menit, itu akan membawa pengaruh positif sepanjang hari yang tersisa," ungkap peneliti Shu-wen Wang, yang membantu menganalisa rekaman penelitian berdurasi 1.540 jam.
6. Nonton TV bareng
Tak usah merasa bersalah jika anak-anak selalu terlihat asyik menonton televisi, ketimbang melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Temani saja mereka nonton. "Keluarga yang menonton TV bersama menunjukkan banyak perilaku keterikatan," ujar Campos. Jadi, bila suatu ketika Anda sudah kehabisan energi untuk mengajak anak-anak jalan-jalan, nonton film bersama di rumah juga baik untuk keharmonisan keluarga. Jangan lupa, pilih film berkualitas yang bisa ditonton seluruh keluarga.
7. Melakukan ritual harian secara rutin
Wang mengatakan, ia yakin bahwa spontanitas dan kegembiraan bisa merekatkan hubungan keluarga. Tetapi untuk membentuk fondasi yang kuat, yang lebih penting kedua hal tersebut dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. "Entah pasangan menyisihkan waktu untuk duduk santai sambil minum kopi, atau orangtua membacakan dongeng untuk anak-anak sebelum tidur, momen-momen kecil ini membuat kehidupan keluarga sangat nyaman dan makin dekat," katanya.
http://15meh.blogspot.com/2010/09/7-trik-menciptakan-keluarga-bebas-stres.html
