Tampilkan postingan dengan label Sutradara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutradara. Tampilkan semua postingan

Sutradara Sutradara Terbaik Indonesia 2010

Jagat film nasional belum stabil benar. Pertumbuhannya masih diwarnai pasang-surut kreativitas. Bahkan, belakangan, perfilman nasional cenderung surut ke belakang. Film-film lebih didominasi dengan gambar yang, jika bukan mengumbar adegan seks pasti adegan horor murahan.

Namun, jagat film masih bisa menaruh harap pada sutradara-sutradara yang konsisten menyuguhkan tontonan-tontonan bermutu. Sebut saja Hanung Bramantyo atau Ari Sihasale. Andai saja, Riri Riza merilis film Sang Pemimpi di awal tahun ini, pasti termasuk sutradra terbaik tahun ini.

Dari sentuhan-sentuhan tangan emas mereka, lahir tontonan-tontonan bermutu sekaligus mendidik, dan yang terpenting berhasil mencuri perhatian publik. Berikut adalah rekaman jejak sutradara-sutradara yang berhasil menorehkan tinta emas sebelum menutup pergantian akhir tahun menuju 2011.

1. Hanung Bramantyo

Suami Zaskia Adya Mecca ini termasuk salah satu sutradara bertangan midas. Belasan film yang pernah digarap, beberapa di antaranya, berhasil meraup penonton hingga menembus angka satu juta. Sebut saja, film Ayat-Ayat Cinta dan Get Merried 2. Pada 9 Desember lalu, Hanung merilis film Sang Pencerah yang diklaim menelan biaya hingga Rp 12 miliar. Banyak kalangan memuji kualitas film yang digarap di Yogyakarta, Ambarawa, dan Kebun Raya Bogor ini patut meraih piala citra 2010. Alih-alh meraih penghargaan, film ini malah gagal masuk nominasi Festival Film Indonesia 2010.

2. Deddy Mizwar

Jenderal Nagabonar di film Nagabonar ini juga dikenal sebagai sutradara spesialisasi film-film satir. Ia mengawali karir sebagai sutradara dengan menggarap film Ketika pada 2005. Saat ini sudah empat film yang telah digarap Deddy Mizwar. Film terakhir Deddy adalah Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film ini berhasil menyabet 12 Nominasi dan memenangi tiga Piala Citra 2010.

3. Ari Sihasale

Suami Nia Zulkarnaen ini mengawali debut menjadi sutradara dengan menggarap film King pada 2009. Di film tersebut, Ari juga bertindak sebagai produser, sebuah pekerjaan yang mulai digeluti sejak mengeluarkan film Denias, Senandung di Atas Awan. Menjelang pertengahan tahun ini atau pada 17 Juni lalu, Ari merilis film keduanya, Tanah Air Beta. Ada satu karakter yang menonjol di setiap film besutan Ari Sihasale, menonjolkan keindahan alam bersatu dengan akting para pemain. Ari tergolong sutradara yang anti terhadap pagelaran Festival Film Indonesia.

4. Benni Setiawan

Sutradara film 3 hati 2 Dunia 1 cinta ini menutup catatan prestasi akhir tahun ini dengan gemilang. Ia berhasil menyabet gelar sutradara terbaik tahun ini versi Festival Film Indonesia 2010. selain itu, film besutannya juga meraih enam penghargaan yang lain. Di jagat layar layar lebar, ia termasuk sutradara pendatang baru.

5. Lola Amaria

Termasuk salah satu sutradara perempuan yang konsisten mengangkat tema-tema sosial ke dalam film. Mengawali debut sutradara dengan menggarap film Betina pada empat tahun silam. Namun, ia sudah memproduseri film sendiri sejak menggarap film Novel Tanpa Huruf R, dua tahun sebelumnya. Awal Juni lalu, Lola merilis fim ketiganya, Minggu Pagi Di Victoria Park. Berkat film ini, Lola meraih nominasi kategori sutradara terbaik.
 
http://feeds.feedburner.com/blogspot/ndfB

Pemain Film Gigolo Kuta Ngaku Ditipu Sutradara


KUTA - Para pemain dalam film dokumenter gigolo Kuta, 'Cowboys in Paradise' mengaku ditipu oleh Amit Virani, sutradara sekaligus produser film ini.

Para pemain yang ada di film ini merasa wawancara mereka dimanipulasi dan disalahgunakan oleh pembuat film. Mereka juga menolak tegas disebut gigolo karena itu bukan pekerjaan mereka. Setelah wajah mereka sering muncul di media televisi, para pemain di film dokumenter itu resah. Akibat film ini, aktivitas mereka sehari-hari sebagai instruktur surfing atau selancar di Pantai Kuta terganggu.

Salah satu anak pantai atau 'beach boys' yang wajahnya muncul di film dokumenter ini mengaku tertipu. Wawancara yang mereka berikan pada saat pembuatan film sekitar 2 tahun lalu, ternyata dimanipulasi oleh sutradara asal India, Amit Virani, menjadi sebuah film dokumenter tentang gigolo.

"Kita merasa tertipu. Ini benar-benar mengganggu kita, kita ini sebenarnya korban. Kalau dia bilang waktu itu lagi bikin film gigolo, ya tentu saja kita tidak mau, kita bukan orang bodoh pak," kata Warno, yang wajahnya muncul di film itu sebagai pria berkaca mata hitam berambut panjang dan mengucapkan kata 'I love you'.

Warno yang biasa dipanggil Arnold, sehari-harinya merupakan instruktur surfing bagi turis asing yang berkunjung ke Pantai Kuta, dengan bayaran 25 dollar per 2 jam. Pasca kejadian ini, ia yang sudah mempunyai istri merasa sangat terganggu.

"Terus terang saya stress, sekarang tidak bisa mencari nafkah dengan tenang, kita kan perlu uang untuk hidup pak," jelasnya, di Pantai Kuta, Rabu (28/4).

Pasca kejadian ini, para pemain film yang merasa tertipu berniat akan menuntut sang sutradara. Namun keinginan ini terhalang karena mereka mengaku tak punya biaya untuk menyewa pengacara. [*/mut] 
 
http://radarngguonline.blogspot.com/2010/04/pemain-film-gigolo-kuta-ngaku-ditipu.html