Tampilkan postingan dengan label Letusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Letusan. Tampilkan semua postingan
Letusan Gunung Terdahsyat Sepanjang Sejarah
Label:
Gunung,
Letusan,
Sejarah,
sepanjang,
Terdahsyat
/
Gunung berapi telah meletus selama miliaran tahun. Akan tetapi, manusia baru bisa mencatat letusan tersebut dengan berbagai tingkat akurasi sejak letusan yang terjadi sekitar puluhan ribu tahun lalu. Adapun untuk pengukuran dengan akurasi tepat baru bisa dilakukan di abad ke-20.
Meski banyak letusan dahsyat di planet ini terjadi di masa lalu, tetapi para ilmuwan telah mengembangkan berbagai cara untuk memberikan peringkat. Peneliti dari U.S Geological Survey menggunakan Volcano Explosivity Index (VEI) untuk mengukur tingkat letusan gunung api dengan skala 1 sampai 8.
Letusan gunung dengan skala 1 memuntahkan partikel terdiri dari debu dan batuan berjumlah hingga 10 ribu meter kubik. Adapun letusan dengan skala 8 memuntahkan lebih dari 1000 kilometer kubik debu dan batu.
Sebagai gambaran, letusan gunung Eyjafjallajokull di Islandia dan Merapi di Indonesia mencapai skala 4. Gunung St. Helens yang meletus tahun 1980 sendiri tercatat mencapai skala 5 VEI.
Dengan mempelajari sampel batu-batuan, peta geografis, lapisan debu dan es, peneliti berhasil merekonstruksi sebagian dari letusan gunung yang paling besar. Termasuk yang meletus dalam hitungan ratusan juta tahun yang lalu.
Dan ternyata, letusan gunung terdahsyat sepanjang sejarah planet Bumi adalah letusan gunung La Garita di pegunungan San Juan di barat daya Colorado. Gunung tersebut meletus sekitar 27 juta tahun yang lalu. Ketika itu, gunung memuntahkan 5 ribu kilometer kubik lava yang cukup untuk menutup seluruh wilayah California hingga ketebalan 12 meter.
Menurut data USGS, seperti dikutip dari Livescience, 11 November 2010, letusan itu juga merupakan letusan yang terbesar sejak era Ordovician yang berlangsung antara 504 hingga 438 juta tahun lalu. Saking dahsyatnya letusan, pada laporan Bulletin of Volcanology 2004, ilmuwan merekomendasikan angka 9 pada skala VEI dan menyebutkan letusan La Garita mencapai skala 9,2.
Meski masih diperdebatkan, dan mengingat aktivitas vulkanik di masa purba sebagian hanya dalam perkiraan, letusan La Garita merupakan satu-satunya letusan yang bisa mencapai skala 9. La Garita berpotensi menggeser letusan gunung Taupo di Selandia Baru yang meletus sekitar 26 ribu tahun lalu sebagai letusan terhebat sepanjang masa.
Saat ini, sabuk ‘Ring of Fire’ yang mengelilingi Pasifik menjadi tempat berkumpulnya lebih dari separuh gunung berapi aktif di seluruh dunia. Alasannya adalah karena posisi ‘Ring of Fire’ yang berada di perbatasan lempeng benua atau zona subduksi.
Seperti diketahui, di area subduksi lempeng tektonik, di mana satu lempeng dipaksa bergeser ke bawah lempeng lainnya, kerap memproduksi gempa bumi hebat dan aktivitas vulkanik.
• VIVAnews
Heboh !! 5 Al-Quran Muncul Secara Tiba Tiba Saat Letusan Gunung Merapi TERJADI !!!
SLEMAN— Keluarga Ponimin terjebak selama empat jam di dalam rumah saat wedhus gembel Gunung Merapi menyerang.
Kepada Tribunnews.com di lokasi pengungsian, tokoh spiritual Kaliadem sekaligus calon juru kunci Gunung Merapi pengganti almarhum Mbah Maridjan ini menceritakan kisahnya.
Suhu saat itu sudah sangat panas, beberapa bagian rumah keluarga Ponimin rusak setelah genteng kaca pecah terkena awan panas.
“Dari genteng yang pecah itu, pasir dan abu panas masuk ke dalam plafon. Akibatnya, sebagian plafon ambrol,” kata Lilik, anak Ponimin.
Meski pada saat itu suhu diperkirakan sekitar 600 derajat celsius, tiga dus air mineral tidak menguap, begitu pula pakaian, dan tiga sepeda motor yang diparkir dalam rumah.
Keanehan lain yang terjadi saat itu, kata Lilik, anak Ponimin melihat mendadak muncul kitab suci Al Quran di dalam kamar yang mereka pakai.
“Al Quran tersebut biasa tidak ada di kamar itu. Tiba-tiba saat itu ada di dekat kami. Kalau tak salah jumlahnya lima,” katanya meyakinkan.
Tak ingin terus-menerus berada dalam rumah, keluarga Ponimin mencoba meninggalkan tempat itu dengan menggunakan mobil Toyota Avanza silver yang terparkir di garasi.
Namun, baru berjalan beberapa meter dari halaman rumah, mobil tersebut tidak mampu bergerak lagi.
“Ban depan meleleh kena jalanan dipenuhi abu dan pasir panas. Tak lama kemudian, giliran ban belakang ikut meleleh dan meledak,” kenang Lilik.
Baru beberapa menit berada dalam mobil, keluarga Poniman tak tahan hawa panas yang menyergap. Tak ada jalan lain, mereka harus meninggalkan mobil dan kembali ke rumah.
Bagaimana caranya? Rupanya, ada saat ada akal. Bantal yang ada dalam mobil dipakai sebagai alas tumpuan kaki agar tidak kepanasan.
Kembali ke kamar semula, keluarga abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu lagi-lagi disergap ketidakpastian. Mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan rumah dengan berjalan kaki.
Sebelumnya, ada seorang relawan, Pandu Nugraha, yang mencoba membantu keluarga Ponimin.
“Relawan itu datang ke rumah kami mengendarai sepeda motor trail. Ia membawa oksigen sesuai permintaan kami. Sepatu boot yang dikenakannya meleleh,” ujar Lilik.
Sepada motor ditinggalkan begitu saja di luar rumah sehingga dalam waktu singkat hancur terkena awan panas.
“Relawan tersebut dan seorang tetangga bernama Pak Tris bersama keluarga kami kemudian memutuskan keluar dari rumah dengan berjalan kaki, sekitar pukul 23.00 WIB, Selasa. Ibu terpaksa digendong relawan karena kakinya berdarah,” kata Lilik.
Untuk melawan abu dan pasir panas yang menutup jalan, Lilik mengambil sejumlah batalan kursi sofa sebagai alas.
Keluarga Ponimin, Pak Tris, dan relawan berjalan dengan menginjak bantalan sofa secara estafet sejauh sekitar 500 meter.
Selanjutnya mereka berjalan kaki tanpa alas bantal sekitar 1 km menuju kaki Gunung Merapi.
“Bapak hanya mampu jalan kaki sekitar 500 meter karena kakinya terbakar ketika berjalan di atas pasir panas. Beliau berhenti di sebuah tempat parkir,” kata Lilik.
Keluarga itu kemudian dapat dievakuasi menggunakan mobil jemputan dan dilarikan ke RS Panti Nugroho di Kecamatan Pakem, Sleman.
Selanjutnya Ponimin yang mengalami luka bakar di kaki dan pantat dirawat di klinik dr Ana Ratih Wardhani, di Kecamatan Ngemplak, Sleman. (Febby Mahendra/Krisna)
http://ruangbacaonline.blogspot.com/2010/11/heboh-5-al-quran-muncul-secara-tiba.html
Foto Letusan Merapi Dari Masa Ke Masa
Letusan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta pada Selasa lalu (26/10/10) ternyata tidak seberapa bila dibandingkan dengan letusan-letusan sebelumnya.
Letusan pada 1930 setidaknya telah membunuh 1.370 orang di 13 desa di lereng Merapi. Pusat Vulkanologi mencatat, letusan besar Merapi terjadi diantaranya pada tahun 1961, 1984, 1994, 2006 dan 2010.
Letusan pada 1930 setidaknya telah membunuh 1.370 orang di 13 desa di lereng Merapi. Pusat Vulkanologi mencatat, letusan besar Merapi terjadi diantaranya pada tahun 1961, 1984, 1994, 2006 dan 2010.
Tahun 1930
Uap panas dari aliran lahar yang menghancurkan sedikitnya 13 desa di lereng Gunung Merapi saat letusan tahun 1930.

Letusan pada tahun 1930 setidaknya telah membunuh 1.370 orang di 13 desa di lereng Merapi.

Tahun 1961
Awan debu membumbung tinggi saat letusan Gunung Merapi 7-8 Mei 1961. Sementara itu awan panas yang meluncur turun menghanguskan sedikitnya 10 desa.

Tahun 1984
Awan panas meluncur turun saat letusan gunung merapi tahun 1984.

Tahun 1994
Letusan Gunung Merapi tahun 1994.

Tahun 2006
Foto satelit letusan Gunung Merapi tahun 2006.

Awan debu saat letusan Gunung Merapi tahun 2006.

Gunung merapi mengeluarkan awan panas saat letusan tahun 2006.

Gunung merapi mengeluarkan lava pijar saat letusan tahun 2006.

Awan panas meluncur turun saat letusan Gunung Merapi tahun 2006.

Awan panas meluncur turun saat letusan Gunung Merapi tahun 2006.

Gunung Merapi mengeluarkan awan panas saat letusan 26 Oktober 2010.

Sumber : http://gugling.com/foto-letusan-merapi-dari-masa-ke-masa.html#wrapper
Foto-Foto Keindahan Letusan Gunung Sinabung Dilihat Dari Jarak Dekat

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo menyemburkan asap tebal dan debu vulkanik, mulai Jumat malam . Sejak saat itu pula PMI Sumatera Utara telah mengerahkan lima personil Satgananya (Satuan Penanganan Bencana) ke lokasi . Muhammad Irsal merupakan salah satu personil Satgana yang saat ini bertugas siaga di lokasi Desa Sigaranggarang, Gunung Sinabung.



“Tengah malam tadi(Sabtu, red) , terasa ada guncangan yang cukup kuat. Itu adalah gempa vulkanik. Setelahnya, tampak puncak Gunung Sinabung mengeluarkan lava pijar. Api mulai membakar hutan di kaki gunung. Tak lama, turun asap tebal, dan membuat jarak pandang hanya lima meter. Penduduk segera kami bantu evakuasi ke lokasi aman,” kata Irsal..
Sejak Gunung Sinabung di Kabupaten Karo menyemburkan asap tebal dan debu vulkanik, PMI Sumatera Utara telah mengerahkan lima personil Satgananya ke lokasi di Gunung Sinabung, mulai Jumat malam (27/8). Kemudian secara berkala mereka memantau beberapa desa yang letaknya di kaki Gunung Sinabung. Pada Sabtu malam (28/8), seusai PMI membagikan 500 masker,kemudian tiga personil Satgana PMI Sumatera Utara beserta satu ambulansnya melakukan penyisiran dan berkeliling desa memantau kondisi terakhir.



sumber :http://ruanghati.com/2010/08/31/foto-foto-keindahan-letusan-gunung-sinabung-dilihat-dari-jarak-dekat/
34 Desa Berada Dalam Zona Bahaya Letusan Gunung Sinabung
Data yang diperoleh dari Posko Utama Penanggulangan Bencana Hingga Minggu (29/8/2010) malam, menyebutkan, keseluruhan desa tersebut terbagi dalam tiga zona bahaya letusan.
Zona pertama disebut sebagai Siaga I. Kawasan ini berada dalam radius enam kilometer dari pusat letusan Gunung Sinabung. Terdapat 12 desa dalam zona tersebut. Yakni Desa Sigarang-garang, Sukanalu, Bekerah, Simacem, Gamber, Sukameriah, Kutarakyat, Kutagunggung, Naman, Kutambelin, Kebayaken dan Desa Guru Kinayan.
Sementara zona kedua disebut daerah rawan I, yang lokasinya sudah lebih dari enam kilometer. Terdapat 10 desa yang masuk zona ini. Yakni Desa Silandi, Berastepu, Kuta Tengah, Sukandebi, Sukatepu, Ndeskati, Gungpinto, Payung, Perbaji dan Desa Nardinding.
Sementara zona ketiga disebut Rawan II. Terdapat 12 desa yang masuk dalam zona tersebut. Yakni Desa Ujung Teran, Cinta Rakyat, Torong, Ujung Payung, Rimo Kayu, Batukarang, Kuta Tonggal, Cimbang, Temburun Tiganderet, Tanjung Morawa dan Desa Kutambaru.
Sebagian besar penduduk desa-desa tersebut, sudah dievakuasi dan ditempatkan pada lokasi-lokasi penampungan pengungsian yang terdapat di Kecamatan Kabanjahe, Berastagi dan beberapa daerah lainnya.
Hingga saat ini jmumlah warga yang mengungsi akibat meletusnya gunung Sinabung tersebut mencapai 18.665 jiwa. Angka ini diperkirakan akan terus naik jika situasi tidak kunjung membaik.
Sumber : Detik.com
Korban Letusan Gunung Sinabung Butuh Makanan Untuk Balita
Korban Letusan Gunung Sinabung Butuh Makanan untuk Balita ; Pascameletusnya Gunung Sinabung, di Kabupaten Tanah Karo, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Minggu (29/8), menggelar pertemuan Musyawarah Pimpinan Daerah Plus. Pertemuan tersebut dihadiri Pangdam I Bukit Barisan Mayor Jenderal TNI Leonardus JP Siegers dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono.
Dalam pertemuan yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Rustam Effendy Nainggolan, kata Kepala Badan Komunikasi dan Informasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Eddy Syofian, Surono mengakui penjelasan Gunung Sinabung tidak meletus penjelasan dari mereka. “Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono mengakui penjelasan itu dari mereka,” kata Eddy kepada Tempo, Minggu.
Pada pertemuan itu, lanjut Eddy, pemerintah Sumatera Utara telah menyiapkan bantuan makanan, 50 ton beras, tenda dapur umum, dan tenaga relawan 900 personel dari TNI dan Polri.
Informasi yang diterima Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Eddy menjelaskan, hingga kini jumlah pengungsi mencapai lebih dari 10 ribu jiwa. Para pengungsi, lanjut dia, berasal dari 20 desa dari empat kecamatan yang berada di dekat Gunung Sinabung.
Eddy memperkirakan, para pengungsi akan rentan terserang infeksi saluran pernafasan akut. Pemerintah Sumatera Utara juga menyediakan bantuan 17 ribu masker. “Juga tim medis,” katanya.
Hanya saja, menurut Eddy, bantuan yang telah dikerahkan menuju lokasi pengungsian belum mencakup keperluan untuk anak-anak yang turut menjadi korban pengungsian. “Kita membutuhkan susu dan makanan kering untuk anak-anak balita,” kata dia.
Dalam pertemuan yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Rustam Effendy Nainggolan, kata Kepala Badan Komunikasi dan Informasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Eddy Syofian, Surono mengakui penjelasan Gunung Sinabung tidak meletus penjelasan dari mereka. “Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono mengakui penjelasan itu dari mereka,” kata Eddy kepada Tempo, Minggu.
Pada pertemuan itu, lanjut Eddy, pemerintah Sumatera Utara telah menyiapkan bantuan makanan, 50 ton beras, tenda dapur umum, dan tenaga relawan 900 personel dari TNI dan Polri.
Informasi yang diterima Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Eddy menjelaskan, hingga kini jumlah pengungsi mencapai lebih dari 10 ribu jiwa. Para pengungsi, lanjut dia, berasal dari 20 desa dari empat kecamatan yang berada di dekat Gunung Sinabung.
Eddy memperkirakan, para pengungsi akan rentan terserang infeksi saluran pernafasan akut. Pemerintah Sumatera Utara juga menyediakan bantuan 17 ribu masker. “Juga tim medis,” katanya.
Hanya saja, menurut Eddy, bantuan yang telah dikerahkan menuju lokasi pengungsian belum mencakup keperluan untuk anak-anak yang turut menjadi korban pengungsian. “Kita membutuhkan susu dan makanan kering untuk anak-anak balita,” kata dia.
http://berita-lampung.blogspot.com/2010/08/korban-letusan-gunung-sinabung-butuh.html
Foto Foto Langka Saat Letusan Gunung Berapi Bawah Laut
Sebagai akibat gempa bumi berkekuatan 4.4 skala Richter pada 13 Maret 2009, salah satu gunung api bawah laut di Pulau Tonga meletus. Pulau ini berada di Samudera Pasifik Selatan. Fotografer Dana Stephenson, Trevor Gregory dan Lothar Slabon berhasil mengabadikan momen langka ini.







Sejarah Kiamat Kecil Dari Letusan Gunung Tambora
Tahun tanpa musim panas, juga dikenal sebagai Tahun Kemiskinan dan Seribu delapan ratus dan membeku hingga mati, terjadi pada 1816, ketika penyimpangan iklim musim panas menghancurkan panen di Eropa Utara, Amerika timur laut dan Kanada timur. Kini orang umumnya menduga bahwa penyimpangan itu terjadi karena ledakan vulkanik Gunung Tambora pada tanggal 5 April–15 April 1815. Gunung ini terletak di pulau Sumbawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) yang melontarkan lebih dari satu setengah juta ton – atau 400 km³ – debu ke lapisan atas atmosfer. Seperti umumnya diketahui, setelah sebuah letusan gunung berapi yang dahsyat, temperatur di seluruh dunia menurun karena berkurangnya cahaya matahari yang bersinar melalui atmosfer.

Penyimpangan iklim yang luar biasa pada 1816 menimbulkan pengaruh yang sangat hebat di Amerika timur laut, Kanada Maritim dan Eropa utara. Biasanya, pada akhir musim semi dan musim panas di Amerika timur laut cuacanya relatif stabil: temperatur rata-rata sekitar 20–25°C, dan jarang sekali turun hingga di bawah 5°C. Salju musim panas sangat jarang terjadi, meskipun kadang-kadang turun pada bulan Mei.

Namun pada Mei 1816 frost (pembekuan) mematikan sebagian besar tanaman yang telah ditanam, dan pada bulan Juni dua badai salju mengakibatkan banyak orang yang meninggal. Pada Juli dan Agustus, danau dan sungai yang membeku dengan es terjadi hingga di Pennsylvania yang jauh di selatan. Perubahan temperatur yang cepat dan dramatis lazim terjadi, dengan temperatur yang bergeser dari yang normal dan di atas normal pada musim panas, yaitu 35°C hingga hampir membeku hanya dalam beberapa jam saja. Meskipun para petani di selatan New England berhasil menuai panen yang masak, harga jagung dan biji-bijian lainnya meningkat secara dramatis. Harga haver, misalnya, meningkat dari 12 sen dolar sekarungnya (ukuran 35 1/4 liter) pada tahun sebelumnya menjadi 92 sen dolar Amerika.

Banyak sejarahwan yang menyebutkan tahun tanpa musim panas ini sebagai motivasi utama untuk terbentuknya dengan segera pemukiman yang kini disebut sebagai Barat Tengah Amerika. Banyak penduduk New England yang tewas karena tahun itu, dan puluhan ribu lainnya berusaha mencari tanah yang lebih subur dan kondisi-kondisi pertanianyang lebih baik di Barat Tengah Hulu (saat itu merupakan Wilayah Barat Laut) . (Sebuah contoh spesifik tentang hal ini adalah ketika keluarga Joseph Smith yang kemudian menjadi pendiri Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir pindah dari Sharon, Vermont ke Palmyra, New York di negara bagian New York yang jauh di barat setelah beberapa kali panen yang gagal.) Sementara hasil panen memang buruk selama beberapa tahun, pukulan yang terakhir terjadi pada 1815 dengan letusan Tambora.

Letusan Tambora ini juga menyebabkan Hongaria mengalami salju coklat. Italia mengalami sesuatu yang serupa, dengan salju merah yang jatuh sepanjang tahun. Hal ini diyakini disebabkan oleh debu vulkanik di atmosfer.

Badai yang hebat, curah hujan yang tidak normal, dan banjir di sungai-sungai utama Eropa (termasuk Sungai Rhein dihubungkan dengan peristiwa ini. Demikian pula dengan frost yang terjadi pada Agustus 1816.
sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2010/04/sejarah-letusan-kiamat-kecil-dari.html
Penyimpangan iklim yang luar biasa pada 1816 menimbulkan pengaruh yang sangat hebat di Amerika timur laut, Kanada Maritim dan Eropa utara. Biasanya, pada akhir musim semi dan musim panas di Amerika timur laut cuacanya relatif stabil: temperatur rata-rata sekitar 20–25°C, dan jarang sekali turun hingga di bawah 5°C. Salju musim panas sangat jarang terjadi, meskipun kadang-kadang turun pada bulan Mei.
Namun pada Mei 1816 frost (pembekuan) mematikan sebagian besar tanaman yang telah ditanam, dan pada bulan Juni dua badai salju mengakibatkan banyak orang yang meninggal. Pada Juli dan Agustus, danau dan sungai yang membeku dengan es terjadi hingga di Pennsylvania yang jauh di selatan. Perubahan temperatur yang cepat dan dramatis lazim terjadi, dengan temperatur yang bergeser dari yang normal dan di atas normal pada musim panas, yaitu 35°C hingga hampir membeku hanya dalam beberapa jam saja. Meskipun para petani di selatan New England berhasil menuai panen yang masak, harga jagung dan biji-bijian lainnya meningkat secara dramatis. Harga haver, misalnya, meningkat dari 12 sen dolar sekarungnya (ukuran 35 1/4 liter) pada tahun sebelumnya menjadi 92 sen dolar Amerika.
Banyak sejarahwan yang menyebutkan tahun tanpa musim panas ini sebagai motivasi utama untuk terbentuknya dengan segera pemukiman yang kini disebut sebagai Barat Tengah Amerika. Banyak penduduk New England yang tewas karena tahun itu, dan puluhan ribu lainnya berusaha mencari tanah yang lebih subur dan kondisi-kondisi pertanianyang lebih baik di Barat Tengah Hulu (saat itu merupakan Wilayah Barat Laut) . (Sebuah contoh spesifik tentang hal ini adalah ketika keluarga Joseph Smith yang kemudian menjadi pendiri Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir pindah dari Sharon, Vermont ke Palmyra, New York di negara bagian New York yang jauh di barat setelah beberapa kali panen yang gagal.) Sementara hasil panen memang buruk selama beberapa tahun, pukulan yang terakhir terjadi pada 1815 dengan letusan Tambora.
Letusan Tambora ini juga menyebabkan Hongaria mengalami salju coklat. Italia mengalami sesuatu yang serupa, dengan salju merah yang jatuh sepanjang tahun. Hal ini diyakini disebabkan oleh debu vulkanik di atmosfer.
Badai yang hebat, curah hujan yang tidak normal, dan banjir di sungai-sungai utama Eropa (termasuk Sungai Rhein dihubungkan dengan peristiwa ini. Demikian pula dengan frost yang terjadi pada Agustus 1816.
sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2010/04/sejarah-letusan-kiamat-kecil-dari.html

